KONVERGENSI PSAK KE IFRS

Pengertian SAK

Standar Akuntansi yaitu untuk keseragaman laporan keuangan, memudahkan penyusun laporan keuangan karena ada pedoman baku sehingga meminimalkan bias dari penyusun, memudahkan auditor, memudahkan pembaca laporan keuangan untuk menginterprestasikan dan membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan keuangan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan Komite Prinsipil Akuntansi Indonesia pada tahun 1994 menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984. SAK di Indonesia menrupakan terapan dari beberapa standard akuntansi yang ada seperti, IAS,IFRS,ETAP,GAAP. Selain itu ada juga PSAK syariah dan juga SAP.

Perbedaan SAK ETAP dengan PSAK

No Elemen PSAK SAK ETAP
1 Penyajian Laporan Keuangan
  • Laporan posisi keuangan
  • Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan
  • Pembedaan asset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan jangka panjang
  • Aset lancar
  • Laibilitas jangka pendek
  • Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan atau catatan atas laporan keuangan

(Perubahan istilah di ED PSAK 1: Neraca menjadi Laporan Posisi Keuangan, Kewajiban (liability) menjadi laibilitas)

Sama dengan PSAK, kecuali informasi yang disajikan dalam neraca, yang menghilangkan pos:

  • Aset keuangan
  • Properti investasi yang diukur pada nilai wajar (ED PSAK 1)
  • Aset biolojik yang diukur pada biaya perolehan dan nilai wajar (ED PSAK 1)
  • Kewajiban berbunga jangka panjang
  • Aset dan kewajiban pajak tangguhan
  • Kepentingan nonpengendalian
2 Laporan Laba Rugi
  • Laporan laba rugi komprehensif
    • Informasi yang disajikan dalam laporan Laba Rugi Komprehensif
    • Laba rugi selama periode
    • Pendapatan komprehensif lain selama periode
    • Informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif atau catatan atas laporan keuangan
Tidak sama dengan PSAK yang menggunakan istilah laporan laba rugi komprehensif, SAK ETAP menggunakan istilah laporan laba rugi.
3 Penyajian Perubahan Ekuitas Sama dengan PSAK, kecuali untuk beberapa hal yang terkait pendapatan komprehensif lain.
4 Catatan Atas Laporan Keuangan
  • Catatan atas laporan keuangan
  • Struktur
  • Pengungkapan kebijakan Akuntansi
  • Sumber estimasi ketidakpastian
  • Modal (ED PSAK 1)
  • Pengungkapan lain
Sama dengan PSAK, kecuali pengungkapan modal.
5 Laporan Arus Kas
  • Arus kas aktivitas operasi: metode langsung dan tidak langsung
  • Arus kas aktivitas investasi
  • Arus kas aktivitas pendanaan
  • Arus kas mata uang asing
  • Arus kas bunga dan dividen, pajak penghasilan, transaksi non-kas
Sama dengan PSAK kecuali:

  • Arus kas aktivitas operasi: metode tidak langsung
  • Arus kas mata uang asing, tidak diatur.
6 Laporan keuangan konsolidasi dan terpisah
  • Persyaratan penyajian lapkeu konsolidasi
  • Entitas bertujuan khusus
  • Prosedur konsolidasi
  • Lapkeu tersendiri
  • Lapkeu gabungan
Tidak diatur
7 Kebijakan akuntansi, estimasi, dan kesalahan PSAK 25 (Laba atau Rugi Bersih untuk periode Berjalan, Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi)

  • Laba atau rugi bersih untuk Periode berjalan
  • Kesalahan Mendasar
  • Perubahan kebijakan Akuntansi
  • Pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi
  • Konsistensi dan perubahan kebijakan akuntansi
  • Perubahan Estimasi akuntansi
  • Kesalahan.
  • Pos luar biasa
  • Laba atau rugi dari aktivitas normal
  • Operasi yang tidak dilanjutkan
  • Perubahan estimasi Akuntansi
  • Penerapan suatu standar Akuntansi keuangan
  • Perubahan kebijakan Akuntansi yang lain
SAK ETAP sudah maju satu langkah dibandingkan PSAK (tidak ada “kesalahan mendasar” dan “laba atau rugi luar biasa”).
8 Instrumen Keuangan Dasar
  • Ruang lingkup: aset dan kewajiban keuangan
  • Instrumen keuangan dasar:
  • Diklasifikasikan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, dimiliki hingga jatuh tempo, tersedia untuk dijual, pinjaman dan pinjaman yang diberikan
  • Impairment menggunakan incurred loss concept
  • Derecognition
  • Hedging dan derivatif
  • Ruang lingkup: investasi pada efek tertentu
  • Klasifikasi trading, held to maturity, dan available for sale.
PSAK 50 (1998).
9 Persediaan
  • Pengukuran persediaan
  • Biaya persediaan
  • Biaya pembelian
  • Biaya konversi
  • Biaya lain-lain
  • Biaya persediaan pemberian jasa
  • Teknik pengukuran biaya
  • Rumus biaya
  • Nilai realisasi bersih
  • Pengakuan sebagai beban
  • Pengungkapan
Sama dengan PSAK
10 Investasi pada perusahaan asosiasi dan entitas anak
  • Ruang lingkup: entitas asosiasi
  • Metode akuntansi
  • Metode biaya
  • Metode ekuitas
  • Model nilai wajar (ED PSAK 15)
  • Ruang lingkup: entitas asosiasi dan entitas anak
  • Metode akuntansi
  • Entitas asosiasi : metode biaya
  • Entitas anak :
metode ekuitas
11 Investasi pada perusahaan asosiasi dan entitas anak
  • Jointly controlled operation, asset, and entity
  • Metode akuntansi
  • Metode konsolidasi proporsional
  • Metode ekuitas
  • Model nilai wajar (ED PSAK 12 : PBA/PBO/PBE)
Sama dengan PSAK kecuali metode akuntansi hanya menggunakan metode biaya.
12 Property Investasi Metode akuntansi

  • Model nilai wajar

Model biaya

Metode akuntansi: model biaya
13 Aset Tetap
  • Menggunakan pendekatan komponenisasi
  • Pengukuran menggunakan model biaya atau model revaluasi
  • Pengukuran biaya perolehan
  • Pengakuan pengeluaran selanjutnya
  • Penyusutan
  • Tidak perlu review nilai residu, metode penyusutan, dan umur manfaat setiap akhir periode pelaporan, tetapi jika ada indikasi perubahan saja
Sama dengan PSAK kecuali:

  • Tidak menggunakan pendekatan komponenisasi.
  • Revaluasi diijinkan jika dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah. Hal ini mengacu ke PSAK 16 (1994)
  • Tidak perlu review nilai residu.
14 Asset Tidak Berwujud
  • Prinsip umum untuk pengakuan
  • Pengakuan awal, pengukuran selanjutnya
  • Amortisasi selama umur manfaat atau 10 tahun

Penurunan nilai

Sama dengan PSAK, kecuali aset tidak berwujud yang diperoleh dari penggabungan usaha.
  • Menggunakan metode pembelian
  • Goodwill dimaortisasi 5 tahun atau 20 tahun dengan justifikasi manajemen
Tidak diatur
15 Sewa
  • Mengatur perjanjian yang mengandung sewa
  • Klasifikasi bersifat principle based
  • Laporan keuangan lessee dan
  • Tidak mengatur perjanjian yang mengandung sewa (ISAK 8)
lessor
  • Klasifikasi sewa: kombinasi IFRS for SMEs dan SFAS 13
  • Laporan keuangan lessee dan lessor menggunakan PSAK 30 (1990): Akuntansi Sewa Guna Usaha
  • Kewajiban diestimasi
  • Kewajiban kontinjensi
  • Aset kontinjensi
Sama dengan PSAK
16 Ekuitas
  • Penjelasan
  • Akuntasi ekuitas untuk badan usaha bukan PT
  • Akuntansi ekuitas untuk badan usaha berbentuk PT
  • Reorganisasi
  • Selisih penilaian kembali
Sama dengan PSAK, kecuali :

  • Reorganisasi
  • Selisih penilaian kembali
17 Pendapatan
  • Penjualan barang
  • Penjualan jasa
  • Kontrak konstruksi
  • Bunga, dividen dan royalti
  • Lampiran kasus pengakuan pendapatan (ED PSAK 23)
Sama dengan PSAK.
18 Biaya Pinjaman
  • Komponen biaya pinjaman
  • Pengakuan dan kapitalisasi biaya pinjaman
Biaya pinjaman langsung dibebankan
19 Penurunan Nilai Aset
  • Penurunan nilai persediaan
  • Penurunan nilai non-persediaan
  • Penurunan nilai goodwill
Sama dengan PSAK, kecuali:

  • Ruang lingkup yang meliputi semua jenis aset.
  • Tidak mengatur penurunan nilai goodwill
  • Ada tambahan penurunan nilai untuk pinjaman yang diberikan dan piutang yang menggunakan PSAK 31: Akuntansi Perbankan paragraf 16 dan 17.
20 Imbalan Kerja
  • Imbalan kerja jangka pendek
  • Imbalan pasca kerja, untuk manfaat pasti menggunakan PUC
  • Imbalan jangka panjang lainnya

Pesangon pemutusan kerja

Sama dengan PSAK, kecuali untuk manfaat pasti menggunakan PUC dan jika tidak bisa, menggunakan metode yang disederhanakan
21 Pajak Penghasilan
  • Menggunakan deferred taxconcept
  • Pengakuan dan pengukuran pajakkini
  • Pengakuan dan pengukuran pajaktangguhan
  • Menggunakan taxpayable concept
  • Tidak adapengakuan danpengukuran pajak tangguhan
22 Mata Uang Pelaporan
  • Mata uang pencatatan dan pelaporan
  • Mata uang fungsional
  • Penentuan saldo awal
  • Penyajian komparatif
  • Perubahan mata uang pencatatan dan pelaporan
Sama dengan PSAK Mata Uang Pelaporan

  • Mata uang fungsional
  • Pelaporan transaksi mata uang asing dalam mata uang fungsional
  • Perubahan mata uang fungsional (Pada prinsipnya sama)
23 Peristiwa setelah akhir periode pelaporan
  • Peristiwa yang memerlukan penyesuaian
  • Peristiwa yang tidak memerlukan penyesuaian
Sama dengan PSAK
24 Pengungkapan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa
  • Pengertian pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa
  • Pengungkapan
Sama dengan PSAK 7
25 Aktivitas Khusus
  • Akuntansi perkoperasian
  • Akuntansi minyak dan gas bumi
  • Akuntansi pertambangan umum
  • Akuntansi perusahaan efek
  • Akuntansi reksa dana
  • Akuntansi perbankan dan asuransi
Tidak diatur
26 Ketentuan Transisi
  • Retrospektif atau prospektif (jika tidak praktis) yang diterapkan secara prospective catchup (dampak ke saldo laba)
  • Perpindahan dari dan ke SAK ETAP
27 Tanggal Efektif Berlaku efektif untuk laporan keuangan yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2011, penerapan dini 1 Januari 2010

Pengertian IFRS

IFRS (International Financial Reporting Standards) merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).

Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB) yang dahulu bernama Komisi Standar Akuntansi Internasional (AISC), merupakan lembaga independen untuk menyusun standar akuntansi. Organisasi ini memiliki tujuan mengembangkan dan mendorong penggunaan standar akuntansi global yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat diperbandingkan.

Penerapan IFRS di Indonesia

  1. Menurut Sri Mulyani, konvergensi akuntansi Indonesia ke IFRS perlu di dukung agar Indonesia mendapatkan pengakuan maksimal dari komunitas internasional yang sudah lama menganut standar ini. “kalau standar itu dibutuhkan dan akan meningkatkan posisi indonesia sebagai negara yang bisa dipercaya di dunia dengan tata kelola dan pertanggungjawaban kepada rakyat dengan lebih baik dan konsisten, tentu itu perlu dilakukan” ujarnya.
  2. Menurut Rudy Suryanto, SE, M.Acc, AKT (dosen program studi akuntansi UMY). Sebenarnya penerapan IFRS di indonesia telah di mulai secara bertahap sejak tahun 2007, namunakan diterapkan penuh tahun 2012.

Saat standard internasional tidak berbeda dengan standard nasional, maka tidak akan ada masalah. Yang menjadi masalah, apabila standard internasional berbeda dengan standard nasional. Bila hal ini terjadi, maka yang didahulukan adalah standard nasional (rujukan pertama). Banyak pro dan kontra dalam penerapan standard internasional, namun seiring waktu Standard internasional telah bergerak maju.

Dengan pengadopsian IFRS memang diperuntukkan sebagai contoh bahwa dalam hidup kita memang mengalami perubahan, dan perubahan ini terjadi akibat adanya perkembangan dari segala aspek. Namun dalam mengadopsi IFRS , sayangnya masih terdapat pihak-pihak yang mungkin menentangnya, contoh alasannya adalah pemahaman yang mungkin masih dirasa kurang. Mengapa tidak, IFRS ini dalam penjelasannya masih menggunakan bahasa Inggris yang berarti kita harus menerjemahkannya kedalam bahasa yang sesuai dengan Negara yang akan menganutnya. Dengan ini, permasalahannya adalah kita memerlukan banyak waktu untuk menerjemahkan. Serta anggapan bahwa dengan pengubahan ini menimbulkan biaya yang lumayan besar, karena inilah pengadopsian IFRS di Indonesia belum berjalan.

Perbedaan SAK dengan IFRS

SAK IFRS
Sumber PSAK No.1 (Revisi 1998), Penyajian Laporan keuangan IAS1, Presentation of Financial Statements
Neraca Memerlukan penyajian aset lancar maupun aset tidak lancar kecuali untuk industri tertentu seperti bank Penyajian bukan aset lancar ataupun aset tidak lancar,hanya bila penyajian likuiditas lebih relevan dan dapat diandalkan untuk item tertentu
Laporan Kinerja Keuangan Laporan laba rugi Laporan laba rugi komprehensip
Laporan Laba/Rugi Sama seperti IFRS. Tetapi ,ada perbedaan rincian pada item yang disajikan pada laporan pendapatan yang diterima di muka Tidak memiliki format standar meskipun pengeluaran harus disajikan dengan memilih salah satu dari dua format
Laporan Arus Kas (Format dan Metode) Sama dengan IFRS tetapi dalam beberapa entitas harus menggunakan metode langsung Pos standar tetapi ketentuan terbatas pada isinya. Menggunakan metode langsung atau metode tidak langsung
Pos Luar Biasa Item pos luar biasa masih harus dilaporkan Didalam IFRS dilarang
Penyajian Keuntungan dan kerugian yang diakui/Pendapatan Komperhensif lainnya Diakui adanya keuntungan dan kerugian yang disajikan dalam laporan perubahan ekuitas pemegang saham Menyajikan laporan keuangan yang mengakui keuntungan dan kerugian dalam catatan terpisah ataupun tidak pada laporan perubahan ekuitas pemegang saham
Hasil Presentasi Perusahaan Asosiasi Secara khusus tidak memerlukan penunjukkan hasil saham sesudah pajak Menggunakan metode ekuitas yang menunjukkan hasil saham sesudah pajak
Pengungkapan Signifikan Tentang Asosiasi Pengungkapan yang kurang dibandingkan dengan IFRS .Informasi yang signifikan aktiva , kewajiban ,pendapatan , dan hasil yang tidak diperlukan Memberikan informasi yang rinci atau signifikan atas aktiva , kewajiban ,pendapatan dan hasil
Tanggung Jawab laporan Keuangan Manajemen Tidak diatur
Komponen Laporan Keuangan Neraca, Laporan laba-rugi,Laporan arus kas, Laporan Laporan posisi keuangan,Laporan laba-rugi

Pentingnya Standar Akuntansi Internasional

Alasan perlunya Standar Akuntansi International antara lain: Peningkatan daya banding laporan keuangan dan memberikan informasi yang berkualitas di pasar modal internasional. Menghilangkan hambatan arus modal internasional dengan mengurangi perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan. Mengurangi biaya pelaporan keuangan bagi perusahaan multinasional dan biaya untuk analisis keuangan bagi para analis.

Indonesia dan Konvergensi

Indonesia memutuskan untuk berkiblat pada Standar Pelaporan Keuangan Internasional atau IFRS. Konvergensi akuntansi Indonesia ke IFRS perlu didukung agar Indonesia mendapatkan pengakuan maksimal. Pengakuan maksimal ini didapat dari komunitas internasional yang sudah lama menganut standar ini. Jurang pemisah terdalam PSAK dengan IFRS telah teratasi yaitu dengan diperbolehkannya penggunaan nilai wajar (fair value) dalam PSAK.

Mengapa harus mengadopsi International Financial Reporting Standards (IFRS)? Dengan mengadopsi IFRS, Indonesia akan mendapatkan manfaat dari meningkatnya kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global, meluasnya pasar investasi lintas batas negara dan meningkatkan efisiensi alokasi modal. Teknologi informasi yang berkembang pesat telah mengubah lingkungan pelaporan keuangan. Kemajuan ini membawa jutaan investor (jika tidak milyaran) ke lantai pasar modal di seluruh penjuru dunia. Antusiasme para investor tidak akan terhalangi oleh batasan negara, misal: Investor dr Amerika bisa dengan mudah berinvestasi di Eropa atau di Singapore atau bahkan di Indonesia. Bukan hanya investor & analis yang membutuhkan informasi seperti ini, melainkan jg dibutuhkan oleh stakeholder lainnya. Upaya pemerintah Untuk meningkatkan kualitas IFRS akan melindungi investor dalam negeri, karena dengan penerapan standar internasional akan meningkatkan kepercayaan internasional untuk investasi di Indonesia.

Konvergensi IFRS ke dalam PSAK akan berdampak besar bagi dunia usaha, terutama dari sisi pengambilan kebijakan perusahaan yang didasarkan kepada data-data akuntansi. Suatu perusahaan akan memiliki daya saing yang lebih besar ketika mengadopsi IFRS dalam laporan keuangannya. Selain itu, dengan mengimplementasikan IFRS, perusahaan akan menikmati biaya modal yang lebih rendah. Juga konsolidasi yang lebih mudah & sistem teknologi informasi yang terpadu.

Tujuh manfaat sekaligus Penerapan IFRS :

  1. Meningkatkan kualitas standar akuntansi keuangan (SAK)
  2. mengurangi biaya SAK,
  3. meningkatkan kredibilitas & kegunaan lap. keuangan,
  4. meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan
  5. meningkatkan transparansi keuangan,
  6. menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalui pasar modal, dan terakhir
  7. meningkatkan efisiensi penyusunan laporan keuangan.

Strategi dan Target DSAK dalam Proses Konvergensi

Keputusan DSAK (Dewan Standard Akuntansi Keuangan) saat ini adalah mendekatkan PSAK dengan IAS/IFRS dengan membuat dua strategi:

  1. Strategi selektif, dilakukan dengan empat target yaitu; Target pertama, mengidentifikasi standar-standar yang paling penting untuk diadopsi seluruhnya. Target kedua, menentukan batas waktu penerapan standar yang diadopsi. Target ketiga, melakukan adopsi standar selebihnya yang belum diadopsi sambil merevisi standar yang telah ada. Dan target terakhir adalah melakukan konvergensi proses penyusunan standar dengan IASB.
  2. Untuk strategi kedua,strategi dual standard yang menerjemahkan seluruh IFRS sekaligus dan menetapkan waktu penerapannya bagi listed companies.

Penerapan kedua strategi tersebut harus mempertimbangkan lima hal, sebagai berikut:

  1. Konvergensi standar dan proses konvergensi itu sendiri.
  2. Ketersediaan dana untuk penerjemahan standar persediaan dana untuk penerjemahan standar.
  3. Ketentuan perundang-undangan di Indonesia.
  4. Sosialisasi standar dan peluang “moral hazards” dalam penyusunan laporan keuangan.
  5. Ketersediaan sumber daya manusia.

Sasaran konvergensi PSAK ke IFRS yang direncanakan Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI:

Tahap Adopsi
(2008 – 2010)
Tahap Persiapan Akhir
(2008 – 2010)
Tahap Implementasi
(2008 – 2010)
Adopsi seluruh IFRS ke PSAK Penyelesaian persiapan infrastruktur yang diperlukan Penerapan PSAK berbasis IFRS secara bertahap
Persiapan infrastruktur yang diperlukan Penerapan secara bertahap beberapa PSAK berbasis IFRS Evaluasi dampak penerapan PSAK secara komprehensif
Evaluasi dan kelola dampak adopsi terhadap PSAK yang berlaku

Jika kita bandingkan antara semua standar akuntansi yang dimiliki Indonesia dengan IFRS, dengan jelas kita temukan perbedan kuantitas sebagai berikut:

PSAK IFRS
43 Standards (PSAK)
8 Syari’ah Standard
11 Interpretation (ISAK)
4 Technical Bulletins
1 SAK ETAP (Entitas tanpa akuntanbilitas publik/UKM)
37 Standards
8 IFRS
29 IAS
27 Interpretation
16 IFRIC Interpretation
11 SIC

Di Indonesia juga masih terdapat Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) yang masih mengacu pada PSAK lama. Kemungkinan besar setelah konvergensi PSAK ke IFRS akan menyusul perubahan pada SAP. Tidak semua standar IFRS tersebut diatas dicontek habis dan dirubah menjadi PSAK, itulah mengapa IAI memilih konvergensi dari para adaption dan adoption. Sedikit gambaran saja untuk membedakan ketiga istilah tersebut saya jelaskan dalam tabel berikut:

Perbedaan Adaption Convergence Full Adoption
Arti harafiah Adaptasi/Penyelarasan Pertemuan pada suatu titik Adopsi/pemakaian
Standart akuntansi Membuat standar yang benar benar baru Membuat standar baru dengan mempertimbangkan keadaan yang berlaku Mentranslet standar lama menjadi standar baru
Contoh Negara Indonesia sebelum IFRS Indonesia setelah 2012 Australia, Hongkong

Mengutip pernyataan Prof Indra Wijaya dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, beliau mengatakan: “Indonesia mengadopsi secara penuh seperti Australia sangat tidak mungkin, adopsi yang mungkin adalah Mengadopsi IFRS berkarakteristik Indonesia yang lebih bersifat taylor-made namun memenuhi kebutuhan internasional serta dapat melepaskan diri dari tekanan dunia internasional”. Pernyataan itulah yang lebih tepat menjelaskan istilah konvergensi bagi Indonesia.

Berikut saya sajikan perkembangan konvergensi PSAK ke IFRS sampai dengan saat ini:

PSAK/ISAK yang berlaku efektif 2008 -2010

No PSAK/ISAK Ref Issued Effective Date
1 PSAK 13 Properti Investasi IAS 40 2007 1-Jan-08
2 PSAK 16 Aset Tetap IAS 16 2007 1-Jan-08
3 PSAK 30 Sewa IAS 17 2007 1-Jan-08
4 PSAK 14 Persediaan IAS 2 2008 1-Jan-09
5 PSAK 26 Biaya Pinjaman IAS 23 2008 1-Jan-10
6 PSAK 50 Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan IAS 32 2006 1-Jan-10
7 PSAK 55 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran IAS 39 2006 1-Jan-10
8 ISAK 8 Penentuan Apakah Suatu Perjanjian Mengandung Suatu Sewa dan Pembahasan Lebih Lanjut Ketentuan Transisi IFRIC 4 2007 Sep-10

PPSAK (Pencabutan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan)/ISAK yang berlaku efektif 2008 -2010

No PSAK/ISAK Issued Effective Date
1 PPSAK No.1 Pencabutan:
PSAK 32: Akuntansi Kehutanan
PSAK 35: Akuntansi Pendapatan Jasa Telekomunikasi
PSAK 37: Akuntansi Penyelenggaraan Jalan Tol
2009 1-Jan-10
2 PPSAK No.2 Pencabutan:
PSAK 41: Akuntansi Waran
PSAK 43: Akuntansi Anjak Piutang
2009 1-Jan-10
3 PPSAK No.3 Pencabutan:
PSAK 54: Akuntansi Restrukturisasi Utang Piutang Bermasalah
2009 1-Jan-10
4 PPSAK No.4 Pencabutan:
PSAK 31: Akuntansi Perbankan
PSAK 43: Akuntansi Perusahaan Efek
2009 1-Jan-10
5 PPSAK No.5 Pencabutan:
ISAK 06: Interpretasi atas Par.12 dan 16 PSAK 55 (1999) Tentang Instrumen Derivatif Melekat pada Kontrak dalam Mata Uang Asing
2009 1-Jan-10

PSAK yang berlaku efektif per 1 Januari 2011

No PSAK Ref
1 PSAK 1
Penyajian Laporan Keuangan
IAS 1
Presentation of Financial Statement
2 PSAK 2
Laporan Arus Kas
IAS 7
Statement of Cash Flow
3 PSAK 3
Laporan Keuangan Interim
IAS 34
Interim Financial Reporting
4 PSAK 4
Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri
IAS 27
Consolidated and Separated Financial Statement
5 PSAK 5
Segen Operasi
IFRS 8
Segment Reporting
6 PSAK 7
Pengungkapan Pihak-pihak yang Berelasi
IAS 24
Related Party Disclosures
7 PSAK 12
Bagian Partisipasi Dalam Ventura Bersama
IAS 31

Interest in Joint Ventures

8 PSAK 15
Investasi Pada Entitas Asosiasi
IAS 28
Investment in Associates
9 PSAK 19
Aset Tak Berwujud
IAS 38
Intangible Assets
10 PSAK 22
Kombinasi Bisnis
IFRS 3
Business Combination
11 PSAK 23
Pendapatan
IAS 18
Revenue
12 PSAK 25
Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi & Kesalahan
IAS 8
Accounting Policies, Change in Accounting Estimated and Errors
13 PSAK 48
Penurunan Nilai Aset
IAS 36
Impairment of Assets
14 PSAK 57
Provisi, Liabilitas Kontijensi & Aset Kontijensi
IAS 37
Provisions, Contingent Liabilities
15 PSAK 58
Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual & Operasi yang Dihentikan
IFRS 5
Non-current Assets Held for sale and Discontinued Operations

ISAK yang berlaku efektif per 1 Januari 2011

No ISAK Ref
1 ISAK 7
Konsoliasi Entitas Bertujuan Khusus
SIC 12
Consolidation – Special Purposes Entities
2 ISAK 9
Perubahan Atas Liabilitas Purna Operasi, Liabilitas Restorasi & Liabilitas Serupa
IFRIC 1
Change in Existing Decommissioning, Restoration and Similar Liabilities
3 ISAK 10
Program Loyalitas Pelanggan
IFRIC 13
Customer Loyalty Programs
4 ISAK 11
Distribusi Aset Non Kas Kepada Pemilik
IFRIC 17
Distributions of Non-Cash Assets to Owners
5 ISAK 12
Pengendalian Bersama Entitas: Kontribusi Nonmoneter oleh Venturer
SIC 13
Jointly Controlled Entities – Non Monetary Contributions by Venturers
6 ISAK 14
Aset Tak Berwujud: Biaya Situs Web
SIC 32
Intangible Assets – Web Site Costs

PSAK yang berlaku efektif per 1 Januari 2012

No PSAK Ref
1 PSAK 8
Peristiwa Setelah Tanggal Neraca
IAS 10
Event After Balance Sheet Date
2 PSAK 10
Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing
IAS 21
The Effect of Change in Foreign Exchange Rates
3 PSAK 34
Akuntansi Kontrak Konstruksi
IAS 11
Construction Contact
4 PSAK 46
Akuntansi Pajak Penghasilan
IAS 12
Income Taxes
5 PSAK 24
Imbalan Kerja
IAS 19
Employee Benefit
6 PSAK 18
Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya
IAS 26
Accounting and Reporting by Retirement Benefit Plans
7 PSAK 56
Laba per Saham
IAS 33
Earnings per Share
8 PSAK 53
Pembayaran Berbasis Saham
IFRS 2
Share-based payment
9 PSAK 28
Akuntansi Akuntansi Kerugian
IFRS 4
Insurance Contract
10 PSAK 36
Akuntansi Akuntansi Jiwa
11 PSAK 29
Akuntansi Minyak dan Gas Bumi
IFRS 6
Exploration for and Evaluation of Mineral Resources
12 New PSAK (ED PSAK 60) IFRS 7
Financial Instrument: Disclosure
13 New PSAK (ED PSAK 61) IAS 20
Accounting for Government Grants and Disclosure of Government Grant
14 New PSAK (ED PSAK 63) IAS 29
Financial Reporting in Hyper Inflationary
15 New PSAK IAS 41
Agriculture

ISAK yang berlaku efektif per 1 Januari 2012

No PSAK Ref
1 ISAK 13
Lindung Nilai Investasi Neto dalam Kegiatan Usaha Luar Negeri
IFRIC 16
Hedges of Net Investment in a Foreign Operation
2 ED ISAK 16
Perjanjian Konsesi Jasa
IFRIC 12
Service Concession Arrangements
3 ED ISAK 15
PSAK 24 – Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan Minimum dan Interaksinya
IFRIC 14
IAS 19 – The Limit on a Defined benefit Asset, Minimum Funding Requirement and their Interaction
4 ED ISAK 17
Laporan keuangan Interim dan penurunan Nilai
IFRIC 10
Interim Financial Reporting and Impairment

PSAK akan dicabut, dikaji dan direvisi berlaku efektif per 1 Januari 2012

No PSAK Ref
1 PSAK 21 Ekuitas Akan dicabut
2 PSAK 27 Akuntansi Koperasi Akan dicabut
3 PSAK 38 Restrukturisasi Entitas Sepengendali Masih dikaji
4 PSAK 44 Aktivitas pengembangan Real Estat Masih dikaji, kemungkinan diganti IFRIC 15
5 PSAK 51 Kuasi Reorganisasi Masih dikaji
6 PSAK 45 Akuntansi Entitas Nirlaba Direvisi
7 PSAK 47 Akuntansi Tanah Masih dikaji
8 PSAK 39 Akuntansi Kerjasama Operasi Masih dikaji

Perbedaan IFRS dengan PSAK.

Metode penyusunan perbedaan dilakukan dengan membandingkan antara konsep yang terdapat di IFRS dengan yang terdapat dalam PSAK dan disusun berdasarkan urutan standar yang digunakan IFRS.

Pendahuluan dan kerangka dasar (IAS 1; PSAK 1)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1. Cakupan

Pengaturan

Desain IFRS diperuntukkan untuk entitas yang bersifat profitoriented dan SME (Small Medium Enterprise). IFRS belum mengatur standar akuntansi untuk perusahaan

berbasis syariah.

SAK diperuntukkan untuk Entitas yang bersifat profitoriented,

Nirlaba, UKM (Usaha

kecil menengah) yang disebut SAK-ENTAP, dan Perusahaan

berbasis syariah.

Akan ada penerapan

standar yang bersifat setengah-setengah

terhadap perusahaan yang berbasis syariah.

2. Kerangka

Dasar

Memungkinkan penilaian aktiva

tetap berwujud dan tidak berwujud menggunakan nilai

wajar. Laporan keuangan harus disajikan dengan basis true and fair (IFRS Framework par 46)

Sama seperti IFRS, PSAK memberikan alternatif penggunaan nilai wajar untuk menilai kembali aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud. Laporan keuangan disajikan dengan basis “fairly stated” (Kerangka dasar par 46)
3. Pernyataan Kepatuhan akan Standar Entitas harus membuat

pernyataan eksplisit tentang kepatuhan akan standar IFRS

Entitas tidak harus membuat pernyataan kepatuhan akan SAK Harus dibuat pernyataan eksplisit akan kepatuhan pada

PSAK di CALK

4. Prinsip Ketepatan Waktu (Timeliness) Tidak diatur secara khusus kapan entitas menyajikan laporan keuangan Dianjurkan agar entitas menyajikan laporan keuangan paling lama 4 bulan setelah tanggal neraca Perlunya penyesuaian

aturan terkait dengan kewajiban entitas untuk memenuhi

kewajiban perpajakan dalam menyampaikan

SPT Tahunan paling lambat tanggal 31 Maret untuk WP Orang Pribadi dan 30 April untuk WP Badan

5. Basis Standar Menganut standar akuntansi berbasis prinsip untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan

keterbandingan laporan

keuangan antar entitas secara global.

Menganut standar akuntansi berbasis aturan.
6. Prinsip Konservatif Tidak lagi mengakui prinsip konservatif, namun diganti dengan prinsip kehati-hatian

(Prudence)

Masih mengkui prinsip konservatif

Pengungkapan Dan Penyajian Laporan Keuangan (IAS 1; PSAK 1 REV 1998)
No. Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1. Komponen Laporan Keuangan yang Lengkap Komponen laporan keuangan

lengkap terdiri atas :

-Laporan posisi keuangan (neraca)

– Laporan laba rugi

komprehensif

– Laporan perubahan ekuitas

– Laporan arus kas

– Catatan atas laporan

keuangan

-Laporan posisi keuangan komparatif awal periode dan penyajian retrospektif

terhadap penerapan

kebijakan akuntansi

Komponen laporan keuangan

lengkap terdiri atas :

– Neraca

– Laporan laba rugi

– Laporan perubahan ekuitas

– Laporan arus kas

– Catatan atas laporan

keuangan

2. Pengungkapan

dalam Laporan

posisi

keuangan

(neraca)

Berdasar ilustrasi IFRS:

Aset:

Asset Tidak Lancar

 

 

 

Aset Lancar

Ekuitas:

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepemilik entitas induk

 

Hak non-pengendali

Liabilitas

Liabilitas jangka panjang

 

Liabilitas jangka pendek

Berdasarkan PSAK:

Asset:

Aset Lancar

 

 

Aset Tidak Lancar

Liabilitas:

Liabilitas jangka pendek

 

Liabilitas jangka panjang

Ekuitas

Hak non-pengendali

 

Ekuitas yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk

3. Istilah minority interest Istilah minority interest (hak minoritas) diganti menjadi non controlling interest (hak non pengendali) dan disajikan dalam Laporan perubahan ekuitas. Menggunakan istilah hak minoritas
4. Pos luar biasa

(extraordinary

item)

Tidak mengenal istilah pos luar biasa (extraordinary item) Masih memakai istilah pos luar biasa (extraordinary item)
5. Penyajian

Laibilitas jangka panjang

yang akan

dibiayai

kembali

Laibilitas jangka panjang

disajikan sebagai Laibilitas

jangka pendek jika akan jatuh

tempo dalam 12 bulan

meskipun perjanjian

pembiayaan kembali sudah

selesai setelah periode

pelaporan dan sebelum

penerbitan laporan keuangan

Tetap disajikan sebagai

Laibilitas jangka panjang

Laporan Arus Kas (IAS 7, PSAK 2 REV 1994)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1. Metode Dianjurkan menggunakan metode langsung, namun metode tidak langsung tetap diperbolehkan Tidak ada pengaturan, kecuali untuk Perusahaan Publik (Listed Company) harus menggunakan Metode Langsung sesuai Peraturan Bapepam VIII G 7 yang telah diubah dengan KEP-06/PM/2000 Diperlukan pengaturan

lebih lanjut tentang

kebolehan penggunaan

kedua metode arus kas

ataukah hanya menggunakan metode

langsung dalam pelaporan keuangan

kepada publik dan pajak.

2. Arus kas terkait pos luar biasa Item pos luar biasa tidak diperbolehkan dalam IFRS Masih diperkenankan

menggunakan istilah pos luar biasa, dan diklasifikasikan sesuai dengan sifat transaksinya, apakah sebagai aktivitas operasi, investasi atau

pendanaan

Persediaan (IAS 2; PSAK 4 REV 2008)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pengukuran biaya Pengukuran persediaan

berdasarkan biaya atau net realizable value (nilai realisasi bersih) mana yang lebih rendah.

Sama dengan IFRS, Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau

nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah

2 Penggunaan Metode LIFO IFRS melarang penggunaan metode LIFO (Last In First

Out). Hanya boleh menggunakan metode FIFO atau rata-rata tertimbang

Dalam PSAK No 14

Rev 1994, penggunaan metode LIFO masih

diperbolehkan. Namun dalam Revisi tahun 2008 penggunaan metode LIFO sudah dilarang. Hanya digunakan metode FIFO (First in First Out) / MPKP (Masuk Pertama Keluar Pertama) atau Rata-rata tertimbang.

Diperlukan penyesuaian aturan terhadap pelarangan metode LIFO dalam

Konteks perpajakan.

Perubahan Kebijakan dan Prinsip Akuntansi dan Kesalahan Mendasar (IAS 8; PSAK 25 REV 1994)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Perubahan kebijakan atau prinsip akuntansi Dicatat secara retrospektif dan dilakukan penyajian kembali terhadap laba ditahan serta adanya penjelasan efek kumulatif perubahan pada saat periode dilakukan perubahan Sama seperti IFRS, dicatat secara retrospektif dan dilakukan penyajian kembali terhadap laba ditahan serta adanya penjelasan efek kumulatif perubahan pada saat periode dilakukan perubahan
2 Kesalahan mendasar Konsep kesalahan mendasar (fundamental error) dihapus dan diganti

dengan Prior period

error (Kesalahan periode lalu)

Masih memakai konsep kesalahan mendasar (Fundamental error)

yang disajikan secara retrospektif

3 Perubahan estimasi Perubahan estimasi

dicatat secara retrospektif dengan

cara melakukan

penyesuaian atas

laba atau rugi tahun

terjadinya perubahan

estimasi dan laba

rugi periode yang

akan datang jika

mempengaruhi

keduanya.

Sama seperti IFRS,

Perubahan estimasi dicatat secara retrospektif dengan cara melakukan penyesuaian atas laba atau rugi tahun terjadinya perubahan

estimasi dan laba rugi periode yang akan datang jika mempengaruhi keduanya.

Peristiwa Setelah Tanggal Neraca (IAS 10; PSAK 8 REV 2003)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pengungkapan Mengatur pengungkapan dan penyesuaian laporan

keuangan terkait peristiwa baik yang bersifat favorable maupun unfavorable yang terjadi antara akhir periode pelaporan hingga

tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit

Pengungkapan dan

penyesuaian laporan

keuangan terkait peristiwa baik yang

bersifat favorable

maupun unfavorable

yang terjadi antara

tangal neraca hingga

tanggal penyelesaian laporan keuangan

2 Penggunaan istilah Peristiwa setelah

tanggal neraca VS Peristiwa setelah akhir pelaporan

Istilah events after balance sheet date (peristiwa setelah tanggal neraca) direvisi menjadi Events after reporting period (Peristiwa setelah

periode pelaporan)

Masih menggunakan

istilah peristiwa setelah tanggal neraca

3 Penggunaan istilah Tanggal Laporan

keuangan

Diotorisasi untuk terbit

Terdapat istilah tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit (the date when the financial statements are

authorised for issue).

Memakai istilah

tanggal penyelesaian

laporan keuangan

Perlunya pendefinisian lebih

lebih mendalam

tentang istilah

Tanggal laporan

keuangan

diotorisasi untuk

terbit agar tidak

terjadi multi tafsir(sudah dicakup dalam

revisi PSAK 8

tahun 2010)

4 Pihak yang dapat mengubah laporan keuangan setelah

diterbitkan

Terdapat pengungkapan fakta adanya pihak yang dapat mengubah

laporan keuangan

setelah diterbitkan

jika ada

Tidak diatur

Kontrak Konstruksi (IAS 11; PSAK 34 REV 1994)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pengukuran Pendapatan IAS mengharuskan

penggunaan metode

persentase penyelesaian (percentage of

completion method)

untuk melakukan

pengakuan terhadap

pendapatan dan

beban jika realisasi

konstruksi dapat

diestimasi dengan

andal. IAS 11

memberikan

pedoman yang sangat terbatas dalam menentukan

estimasi realisasi

kontrak

Sama seperti IAS

Pajak Penghasilan (IAS 12; PSAK 46 REV 1997)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pengaturan IAS 12 mengatur tentang beda temporer (temporary difference) antara basis pajak dengan

basis komersil yang

dijadikan basis dalam mengakui aktiva atau

kewajiban pajak tangguhan

Sama dengan IFRS.
2 Perbedaan temporer dari Hibah pemerintah Mencakup perbedaan temporer akibat adanya hibah pemerintah

(government grants)

Tidak mengatur

Perlakuan perbedaan temporer akibat

hibah pemerintah

3 Pengakuan pajak

dari Goodwill

Pengakuan pajak tangguhan yang berasal dari Goodwill

yang muncul dari penggabungan usaha tidak diijinkan

Pengakuan pajak dari Goodwill dijinkan sepanjang diakui secara fiscal
4 Pengungkapan

pajak dari pos luar biasa

Tidak mengatur pengungkapan yang berasal dari pos luar biasa Pengungkapan

untuk beban (penghasilan) pajak

yang berasal dari

pos luar biasa serta sifat setiap jumlahnya.

5 Pengaturan PPh

Final

Tidak mengatur tentang PPh Final Mengatur konsep

pengenaan PPh Final karena di Indonesia terdapat pengaturan

perpajakan yang

bersifat pemungutan

atau pemotongan

Final

6 Pengaturan SKP

(Surat Ketetapan

Pajak)

Tidak mengatur tentang SKP Mengatur tentang

pengungkapan SKP,

termasuk SKP yang

diterima tidak dalam

periode terjadinya

yang akan mempengaruhi

konsekuensi pajak pada periode selanjutnya.

7 Pengaturan beda

temporer akibat

penerapan model

revaluasi sebagaimana diatur dalam IAS 16

Terdapat pengaturan beda temporer dari perbedaan basis

pelaporan fiscal dan komersial sebagai

konsekuensi penerapan model revaluasi sebagaimana diatur

dalam IAS 1

Tidak terdapat

pengaturan

Aktiva Tetap (IAS 16; PSAK 16 REV 2007)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Penilaian Aktiva Penerapan prinsip nilai wajar dalam penilaian Aset. Aktiva dapat diukur dengan

menggunakan dua pendekatan, yaitu model revaluasi dan model harga

perolehan.

Sama dengan IFRS Penggunaan jasa

Independent appraisal (penilai) akan berkembang

untuk asset yang

tidak dapat diukur

nilai pasarnya.

2 Selisih akibat

revaluasi

Nilai selisih akibat adanya revaluasi disajikan dalam

lapora laba rugi dan ekuitas

Sama dengan IFRS Harus dilakukan

penyesuaian

terhadap aturan

perpajakan terkait

pengenaan pajak

(PMK 79/2008),

seperti terhadap

selisih lebih revaluasi dan perolehan ijin untuk melakukan

revaluasi.

3 Metode Penyusutan Metode penyusutan yang digunakan harus ditelaah

secara periodik. Koreksi akibat penelaahan ini akan

diperlakukan sesuai dengan IAS 8. Dimungkinkan juga

perubahan terhadap metode penyusutan jika dalam hasil review terdapat perubahan signifikan dengan pola

pemanfaatan ekonomi yang diharapkan dari aktiva tersebut.

Sama dengan IFRS, dengan penyesuaian sesuai dengan PSAK 25 Perlunya penyesuaian

terhadap peraturan

permohonan ijin terhadap Ditjen Pajak untuk melakukan perubahan metode penyusutan.

4 Nilai Residu Manajemen harus melakukan review atas nilai residu dan masa manfaat aktiva setiap tahun. Jika terdapat perubahan, maka disesuaikan dengan menggunakan IAS 8 Sama dengan IFRS, dengan penyesuaian sesuai dengan PSAK 25

 

Sewa (IAS 17; PSAK 30 REV 2007)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Kapitalisasi Aktiva

Sewa

Aktiva sewa pembiayaan dikapitalisasi jika kontrak sewa mengalihkan secara substansial seluruh

resiko dan manfaat

terkait kepemilikan

aktiva. Suatu sewa

diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan-mengalihkan secara

substansial seluruh

resiko dan manfaat

terkait kepemilikan

aktiva.

Sama dengan IFRS
2 Kriteria Klasifikasi

Sewa Pembiayaan

Kriteria yang harus

dipenuhi untuk

diklasifikasikan

sebagai sewa pembiayaan:

– Pengalihan kepemilikan aktiva pada akhir masa sewa

– Lesse memiliki hak opsi untuk membeli dengan harga cukup

rendah di akhir masa sewa

– Masa sewa meliputi

sebagian besar umur ekonomis aktiva

– Pada awal sewa nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum mendekati nilai wajar aktiva

– Aktiva sewabersifat khusus dimana lessee

Yang menggunakannya tanpa perlu modifikasi

Sama dengan IFRS
3 Pengaturan tentang sewa pembiayaan tanah Tidak mengatur sewa pembiayaan tanah Mengatur tentang sewa tanah yang bisa diklasifikasikan sebagai sewapembiayaan

Pendapatan (IAS 18; PSAK 23 REV 1994)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pengakuan Pendapatan Pendapatan diakui jika dapat terukur dengan andal, manfaat ekonomi yang probable. Jika pendapatan diakui dari transaksi penjualan, maka pendapatan diakui jika resiko dan

manfaat aktiva yang

diperjual belikan

telah dialihkan pada

pembeli

Sama dengan IFRS
2 Pengakuan

pendapatan pada

industry khusus

Tidak diatur spesifik untuk pengakuan pendapatan industry khusus, seperti reksadana (PSAK 49),

Penyelenggaraan

jalan tol (PSAK 37), Asuransi jiwa (PSAK 36), Asuransi kerugian (PSAK 28),

Pertambangan

umum (PSAK 33),

Kehutanan (PSAK

32).

Harus dilakukan

penyesuaian

terhadap aturan

perpajakan terkait

pengenaan pajak

(PMK 79/2008),

seperti terhadap

selisih lebih revaluasi dan perolehan ijin untuk melakukan

revaluasi.

Imbalan Kerja (IAS 19; PSAK 24 REV 2004)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pembagian imbalan kerja Imbalan kerja dibagi

dalam dua kelompok

yaitu imbalan kerja

jangka pendek dan

imbalan pasca kerja

Sama dengan IFRS
2 Metode penghitungan imbalan pasca kerja Dengan menggunakan

metode Projected

unit credit method

Sama dengan IFRS
3 Imbalan kerja ekuitas Tidak mengatur imbalan kerja ekuitas Mengatur imbalan

kerja berbasis ekuitas

Berdasar ED PSAK 24, Imbalan kerja

berbasis ekuitas

akan diatur dalam

PSAK 53 tentang

Pembayaran berbasis saham

Hibah Pemerintah (IAS 20; ED PSAK 61 2010)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Bantuan pemerintah atau

hibah pemerintah

Hibah pemerintah,

termasuk yang bersifat moneter, diakui ketika terdapat kepastian bahwa entitas yang

menerima akan

memenuhi semua

persyaratan yang

diharuskan dalam ketentuan. Hibah akan diakui sebagai

laba pada periodeperiode

pelaporan dimana entitas

mengeluarkan biaya untuk memperoleh

hibah tersebut

Tidak mengatur

tentang hibah

pemerintah secara khusus

Dibuat PSAK

khusus tentang

pengungkapan

hibah pemerintah

yang saat ini masih berupa Exposure Draft, yaitu ED PSAK 61 tentang Akuntansi hibah

pemerintah dan

pengungkapan

bantuan pemerintah

Perbandingan IFRS dan PSAK (1)

IFRS PSAK
•         S/d status 2006, terdiri 37 standar dan 20 interpretasi:

–        7 new standards IFRS

–        30 standar IAS

–        9 new Interpretation (IFRIC)

–        11 Interpretasi (SIC)

•         Dimulai sejak 1974 (IAS)

•         Lebih merupakan standar umum, hanya ada 4 standar khusus industri

•         S/d status 2006, PSAK s/d 2006, terdiri dari 59 standar dan 6 interpretasi, umumnya diadopsi dari IAS, namun beberapa menggunakan referensi SFAS.

•         Dikembangkan sejak 1994 (PAI)

•         Ada banyak standar khusus industri (15 standar)

Menurut Ketua DSAK, khusus untuk 7 IFRS, sebenarnya hanya IFRS 1 yang belum diadopsi pengaturannya, sedangkan untuk 6 IFRS lainnya secara substansi sudah diatur dalam PSAK, walau masih ada beberapa perbedaan pengaturan di dalamnya.

Perbandingan IFRS dan PSAK (2)

IFRS PSAK
1.      First time adoption of IFRS

2.      Share-based payment

3.      Business Combinations

4.      Insurance Contract

5.      Non-Current Assets Held for Sale and Discontinued Operations

6.      Exploration for and Evaluation of Mineral Resources

7.      Financial Instruments: Disclosures

1.    Belum diadopsi.

2.    PSAK 53 belum adopsi IFRS 2, referensi menggunakan US SFAS 123.

3.    PSAK 22 belum mengadopsi IFRS 3, referensi menggunakan IAS 22 (1993).

4.    PSAK 28 dan 36, belum adopsi IFRS 4, referensi menggunakan US SFAS dan regulasi industri asuransi.

5.    PSAK 58 belum adopsi IFRS 5, referensi menggunakan IAS 35 (1998).

6.    PSAK 29 dan 33, belum adopsi IFRS 6, referensi US SFAS dan regulasi industri

7.    PSAK 31 dan 55, belum adopsi IFRS 7, referensi menggunaka IAS 30, US SFAS dan regulasi industri.

 Referensi

www.bimbie.com/akuntansi-keuangan-dan-standar-akuntansi-keuangan.html

http://mengenalekonomi.blogspot.com/2014/10/standar-akuntansi-keuangan-dan.html

Perkembangan Konvergensi PSAK ke IFRS

http://missmairmabriana.blogspot.co.id/2012/11/teori-akuntansi_10.html

Perbedaan SAK ETAP dengan PSAK

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s