Ketika yang Diinginkan dan Dicita-Citakan Tak Sesuai Harapan (Pelanggaran Etika) Part 3

Setelah Pak Irvan meminta saya untuk memanipulasi jumlah asset dan jumlah laba yang dihasilkan dengan sejumlah uang yang beliau janjikan kepada saya, saya benar-benar tidak tahu keputusan apa yang harus saya ambil. Disamping Pak Irvan ialah atasan saya sebagai auditor senior sebenarnya segan untuk menolak tetapi jika saya menerima, saya akan tahu akibatnya.

“Gimana Annis dengan tugas yang saya berikan dan sejumlah uang yang akan saya kasih ke kamu jika kamu melaksanakan tugas itu ?”

“Emmm . . . gimana ya Pak saya butuh waktu untuk menjawab tawaran Bapak dan melakukan tugas itu Pak.”

“Ayolah cepat kasih saya jawaban karena posisi keuangan kita dan laporan perusahaan kita sedang anjlok Niss, pasti kalau para investor tahu dan masyarakat tahu perusahaan kita akan dinilai jelek dan kinerjanya buruk.”

“Iya Pak saya mengerti tetapi saya benar-benar harus berpikir dulu sebelum menerima tugas ini.”

“Baiklah saya tunggu keputusanmu ya Niss inget jangan lama-lama.”

Setelah Pak Irvan keluar dari ruangan saya masuklah Indah sahabat saya sekaligus teman kerja, dia pun menanyakan seputar Pak Irvan.

“ Niss kenapa ko bengong aja sih ? Lagi ada yang dipikirin atau gimana ?”

“Eehhh Ndah hehehe . . . engga ko engga ada apa-apa, biasa lagi kecapean aja.”

“Yakin ? Banyakin istrihat ya Nis jangan cape-cape, kalau kerjaannya banyak sini dibantu biar cepat selesai dan engga numpuk tuh berkas.”

“Iya Ndah tenang aja btw makasih banyak yaa perhatian banget sih.”

Indah pun kembali ke ruangannya dan kemudian saya pun teringat tugas yang ingin diberikan Pak Irvan. Jawaban saya menerima atau tidaknya tugasnya  tersebut ternyata ditunggu Pak Irvan sebelum jam pulang kerja. Rasanya hati ini benar-benar tidak tenang sebelum menjawab pertanyaan Pak Irvan. Sejam sebelum jam pulang kerja tiba saya menghampiri ruang kerja Pak Irvan.

“Selamat sore Pak boleh saya masuk ?”

“Sore Niss, silahkan masuk Niss. Gimana sudah dipikirkan matang-matang mengenai tugas yang ingin saya berikan ke kamu ? Tenang masalah jumlah uang yang sudah saya janjikan bisa diubah ko, kamu minta berapa saja akan saya kasih tapi masih dibatas kewajaran ya Nis hahaha . . .”

“Duh gimana ya Pak ? Saya ragu pak.”

Ditengah keraguan saya, saya pun berpikir jika saya menolak tawaran Pak Irvan pasti bakal ada maslaah baru. Tetapi jika saya menerima  meskipun jangka waktunya tidak langsung pasti akibat dari semua itu akan ada juga.

“Gimana Annis ? Oke kan ? Saya sudah kenal lama loh sama kamu, baru kali ini saya lihat kamu kebingungan sampe begini.”

“Ehmm baik Pak saya terima tugas yang bapak kasih.”

“Nah gitu dong ini baru Annis, tenang Niss nanti keuntungannya kita bagi dua.”

Sehabis itu segera saya pulang ke rumah dan langsung istirahat untuk menghadapi apa yang akan terjadi diesok hari dan  bagaimana nanti akibat dari yang bakal saya lakukan.

Keesokan harinya . . . . .

“Pagi Annis, berkasnya sudah saya simpan di atas meja kerja kamu yaa, saya tunggu looh hasilnya secepatnya soalnya saya percaya sama kamu kalau tugas yang begini tuh sudah di luar kepala kamu.”

“Baik Pak segera akan saya selesaikan tugas-tugas yang Bapak berikan, terima kasih sebelumnya Pak.”

Sesampai di ruang kerja saya dan saya melihat beberapa tumpukan berkas dan itu berarti banyak sekali tugas yang harus segera saya kerjakan. Tanpa berpikir lama saya lihat saya pahami terlebih dahulu berkas-berkasnya. Dalam hati berkata dapatkan saya menyelesaikan tugas sebanyak ini dengan waktu yang singkat ? Dan saya masih memikirkan apa yang terjadi apabila laporan keuangan saya menipulasi ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s