Ketika yang Diinginkan dan Dicita-Citakan Tak Sesuai Harapan (Pelanggaran Etika) Part 1

Di Minggu pagi yang penuh dengan  kehangatan, kami  manfaatkan dengan berolahraga bersama seperti jogging dan naik sepeda mengelilingi komplek perumahan yang jarang bahkan tidak pernah kami lakukan bersama dikarenakan kesibukan dari masing-masing.  Setelah rasa lelah dan letih ini melanda begitu pun matahari terasa mulai terik kami segera bergegas untuk pulang ke rumah. Sesampai di rumah ingin sekali rasanya setelah bersih-bersih bersantai di ruang tv, tetapi sayangnya seperti mendengar suara ibu yang memanggil dari arah dapur.

“Niiiisssss . . . . . Anniiissssss . . . . . cepat ke sini.”

“Iya bu, ada apa ?”

“Laper tidak ? Ingin cepat makan tidak ? Haha . . .”

“Iiihh ibu gimana si memang ibu tidak mendengar ada suara-suara dari perutku ini ?”

“Baiklaaaahhh kalau begitu bantu ibu masak ya niss biar masakan cepat matang dan suara-suara di perutmu itu tidak terdengar lagi ?”

“Iya buuuuu . . .”

Di tengah-tengah saya dan ibu sedang memasak datanglah ka Rendi.

“Nis, sudah sejauh mana tugas akhir kuliahmu ? Sudah selesaikah atau masih berhenti di BAB III dan IV seperti 1 bulan yang lalu ? Hahahaha . . . “

“Duuhhhh kaka ini kemana saja si ketinggalan berita nih, selagi ada ibu sama kaka ada berita baik yang ingin aku sampaikan.”

“Aaaahhh kabar baik apa palingan juga kabar buruk yang isinya kalau tugas akhir kamu itu masih ada revisi  sama dosen pembimbing kamu kan ? Hahaha . . .”

“sssyuuuttt . . . kamu ini Ren suka banget menggoda adikmu, omongan tuh doa loh harusnya kamu doain biar adikmu ini cepat selesai tugas akhirnya terus sidang terus wisuda supaya cita-citanya yang ingin menjadi seorang auditor segara tercapai.”

“Tau nih mana ada kaka yang doain adiknya jelek begitu. Makanya ka didengar dulu berita apa yang ingin aku sampaikan.”

“iya . . . iya . . . maaf yaaa kan bercanda dek”

“Jadi begini ka setelah aku cerita ke kaka soal tugas akhirku yang masih di revisi dosen pembimbing aku, besoknya aku perbaiki terus aku buat janji lagi untuk bimbingan. Daaaaaaannn . . . . . Finally! skripsi aku itu di acc ka dan langsunglah aku buru-buru ngelengkapin data untuk daftar siding. Dan yang harus kaka tau jadwal sidang aku lusa ka hari selasa tepatnya.”

“Waaahhhh hebatnya adikku ini pokoknya sebagai kaka yang baik kaka doain sidangmu lancar dan LULUS yaa de”

“Doa ibu selalu buat kalian jadi ibu doakan semoga Annis dilancarkan sidangnya dan LULUS begitu kaka semoga kerjaan kaka selalu lancar”

“Amin Ya Allah”

Tak terasa masakan yang ibu dan saya masak sudah matang dan segeralah kami panggil ayah yang sedang bersantai di taman. Setelah makan, kami pun masih berada di meja makan dan terdapat percakapan bahwa ka Rendi  bilang ke ayah kalau saya akan sidang lusa tepatnya hari selasa.  Tanpa rasa kaget ayah pun membalas ucapan ka Rendi bahwa ayah telah mengetahui terlebih dahulu dari saya. Dengan muka bersedih ka Rendi mengucapkan bahwa ia tidak bisa hadir saat sidang dikarenakan ada tugas untuk pengamanan ke Papua selama 3-4 bulan, dan itu artinya ka Rendi pun tidak bisa hadir di acara wisuda. Masih dengan muka bersedih saya pun ikut bersedih campur kecewa tetapi saya tau bahwa itu udah kewajiban yang harus dilaksanakan ka Rendi.

Dan tak terasa hari pun begitu cepat karena hari ini ialah hari penentuan masa depan saya di dunia perkuliahan. Dengan melihat jadwal sidang dimulai pagi hari saya pun berangkat dari rumah lebih pagi agar sampai ditempat sidangnya tidak telat dan tidak terburu-buru. Jam pun semakin menunjukan bahwa sidang akan dimulai. Setelah menunggu beberapa jam akhirnya nama saya pun dipanggil dan diujilah hasil jerih payah saya selama 4 tahun berkuliah di ruang yang banyak orang bilang menakutkan karena harus bertemu dengan penguji yang belum tentu bersahabat.

Beberapa menit kemudian . . . . .

(Akhirnyaaaaaa lega juga hati ini setelah keluar dari ruang menakutkan itu. Bismillah apapun hasilnya saya serahkan kepadaMu)

Semakin lama semakin banyak yang saya lihat mukanya sudah tidak tegang lagi walaupun pengumuman kelulusan harus kami tunggu pada siang hari. Sambil menunggu sambil berdoa dan saya pun meminta doa kepada ibu, ayah dan ka Rendi agar saya bisa LULUS.

Pukul 13.30 WIB pengumuman kelulusan pun tiba, saya mengucap syukur Alhamdulillah karena jerih payah saya selama ini membuahkan hasil yang benar-benar teramat membanggakan karena saya LULUS . . . Setelah pemberitahuan itu segera saya kabarkan ibu, ayah dan ka Rendi bahwa saya Annisa LULUS S1 dan gelar SE sudah saya dapatkan. Saat kami para mahasiswa yang telah sidang dan mendapat pengumuman tersebut sudah mulai boleh keluar dari gedung itu dan tanpa diduga banyak sekali teman-teman yang telah menunggu di luar. Selesai merayakan kelulusan bersama teman-teman segera saya menghampiri ayah dan ibu yang sengaja menunggu dari pagi, kemudian segera kami pulang. Di tengah perjalanan . . .

“Bu kenapa ya kok ka Rendi tidak membalas pesan dari Anis ? Padahal kan ini kabar baik dan penting banget banget ?”

“Yaaa dimengerti aja Nis mungkin kakakmu itu sedang bertugas dan tidak membawa handponenya, nanti dia juga pasti membalas pesanmu itu.”

“Iya deh bu Annis tunggu aja.”

Sesampai di rumah segera saya masuk kamar untuk berganti pakaian dan beristirahat sejenak. Tanpa disangka saya mendapatkan kejutan dari sepupu , tante , om dan saudara yang lain yang ternyata mereka sudah ada di kamar menunggu saya pulang. Rasanya ingin nangis karena kebahagiaan yang saya rasakan mereka rasakan pula. Hari demi hari tak terasa hari lain yang saya tunggu pula datang juga dimana saya wisuda dan sedih rasanya berangkat wisuda tetapi ka Rendi tak bisa datang juga. Karena dalam undangan tersebut saya mendapat jadwal wisuda pagi, dari jam 4 pagi saya sudah mulai ribet mempersiapkannya. Kira-kira jam 05.30 atau jam 06.00 saya bersama kedua orang tua saya bergegas untuk menuju lokasi wisuda karena ayah tahu pasti bakal macet, ayahlah yang berinisiatif untuk berangkat pagi agar tidak telat. Wisuda pun selesai dilaksanakan . . . . .

Sesaat setelah lulus dan wisuda sembari mengurus berkas-berkas yang harus diurus saya pun mencari lowongan pekerjaan di beberapa KAP atau perusahaan yang sedang membutuhkan auditor internal. Hingga akhirnya teman saya Amel yang memberikan informasi bahwa ada KAP sedang membutuhkan beberapa orang untuk menjadi auditor, segeralah saya menghubungi teman saya yang lain yaitu Ica, Indah, Meya dan Zevana  perihal informasi dari Amel. Di keesokan harinya saya dan teman-teman saya mencari tahu lebih lanjut  tentang informasi tersebut, karena saya dan teman-teman ingin sekali menjadi auditor. Karena kami ada 6 orang saya bersama Meya , Indah bersama Amel dan Ica bersama Zevana kami terbagi menjadi 3 kelompok untuk mencari dari orang terdekat kami atau dari internet tentang infomasi KAP mana yang sedang membuka lowongan dan apa saja yang persyaratan yang dibutuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s