0

KONVERGENSI PSAK KE IFRS

Pengertian SAK

Standar Akuntansi yaitu untuk keseragaman laporan keuangan, memudahkan penyusun laporan keuangan karena ada pedoman baku sehingga meminimalkan bias dari penyusun, memudahkan auditor, memudahkan pembaca laporan keuangan untuk menginterprestasikan dan membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan keuangan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan Komite Prinsipil Akuntansi Indonesia pada tahun 1994 menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984. SAK di Indonesia menrupakan terapan dari beberapa standard akuntansi yang ada seperti, IAS,IFRS,ETAP,GAAP. Selain itu ada juga PSAK syariah dan juga SAP.

Perbedaan SAK ETAP dengan PSAK

No Elemen PSAK SAK ETAP
1 Penyajian Laporan Keuangan
  • Laporan posisi keuangan
  • Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan
  • Pembedaan asset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan jangka panjang
  • Aset lancar
  • Laibilitas jangka pendek
  • Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan atau catatan atas laporan keuangan

(Perubahan istilah di ED PSAK 1: Neraca menjadi Laporan Posisi Keuangan, Kewajiban (liability) menjadi laibilitas)

Sama dengan PSAK, kecuali informasi yang disajikan dalam neraca, yang menghilangkan pos:

  • Aset keuangan
  • Properti investasi yang diukur pada nilai wajar (ED PSAK 1)
  • Aset biolojik yang diukur pada biaya perolehan dan nilai wajar (ED PSAK 1)
  • Kewajiban berbunga jangka panjang
  • Aset dan kewajiban pajak tangguhan
  • Kepentingan nonpengendalian
2 Laporan Laba Rugi
  • Laporan laba rugi komprehensif
    • Informasi yang disajikan dalam laporan Laba Rugi Komprehensif
    • Laba rugi selama periode
    • Pendapatan komprehensif lain selama periode
    • Informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif atau catatan atas laporan keuangan
Tidak sama dengan PSAK yang menggunakan istilah laporan laba rugi komprehensif, SAK ETAP menggunakan istilah laporan laba rugi.
3 Penyajian Perubahan Ekuitas Sama dengan PSAK, kecuali untuk beberapa hal yang terkait pendapatan komprehensif lain.
4 Catatan Atas Laporan Keuangan
  • Catatan atas laporan keuangan
  • Struktur
  • Pengungkapan kebijakan Akuntansi
  • Sumber estimasi ketidakpastian
  • Modal (ED PSAK 1)
  • Pengungkapan lain
Sama dengan PSAK, kecuali pengungkapan modal.
5 Laporan Arus Kas
  • Arus kas aktivitas operasi: metode langsung dan tidak langsung
  • Arus kas aktivitas investasi
  • Arus kas aktivitas pendanaan
  • Arus kas mata uang asing
  • Arus kas bunga dan dividen, pajak penghasilan, transaksi non-kas
Sama dengan PSAK kecuali:

  • Arus kas aktivitas operasi: metode tidak langsung
  • Arus kas mata uang asing, tidak diatur.
6 Laporan keuangan konsolidasi dan terpisah
  • Persyaratan penyajian lapkeu konsolidasi
  • Entitas bertujuan khusus
  • Prosedur konsolidasi
  • Lapkeu tersendiri
  • Lapkeu gabungan
Tidak diatur
7 Kebijakan akuntansi, estimasi, dan kesalahan PSAK 25 (Laba atau Rugi Bersih untuk periode Berjalan, Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi)

  • Laba atau rugi bersih untuk Periode berjalan
  • Kesalahan Mendasar
  • Perubahan kebijakan Akuntansi
  • Pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi
  • Konsistensi dan perubahan kebijakan akuntansi
  • Perubahan Estimasi akuntansi
  • Kesalahan.
  • Pos luar biasa
  • Laba atau rugi dari aktivitas normal
  • Operasi yang tidak dilanjutkan
  • Perubahan estimasi Akuntansi
  • Penerapan suatu standar Akuntansi keuangan
  • Perubahan kebijakan Akuntansi yang lain
SAK ETAP sudah maju satu langkah dibandingkan PSAK (tidak ada “kesalahan mendasar” dan “laba atau rugi luar biasa”).
8 Instrumen Keuangan Dasar
  • Ruang lingkup: aset dan kewajiban keuangan
  • Instrumen keuangan dasar:
  • Diklasifikasikan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, dimiliki hingga jatuh tempo, tersedia untuk dijual, pinjaman dan pinjaman yang diberikan
  • Impairment menggunakan incurred loss concept
  • Derecognition
  • Hedging dan derivatif
  • Ruang lingkup: investasi pada efek tertentu
  • Klasifikasi trading, held to maturity, dan available for sale.
PSAK 50 (1998).
9 Persediaan
  • Pengukuran persediaan
  • Biaya persediaan
  • Biaya pembelian
  • Biaya konversi
  • Biaya lain-lain
  • Biaya persediaan pemberian jasa
  • Teknik pengukuran biaya
  • Rumus biaya
  • Nilai realisasi bersih
  • Pengakuan sebagai beban
  • Pengungkapan
Sama dengan PSAK
10 Investasi pada perusahaan asosiasi dan entitas anak
  • Ruang lingkup: entitas asosiasi
  • Metode akuntansi
  • Metode biaya
  • Metode ekuitas
  • Model nilai wajar (ED PSAK 15)
  • Ruang lingkup: entitas asosiasi dan entitas anak
  • Metode akuntansi
  • Entitas asosiasi : metode biaya
  • Entitas anak :
metode ekuitas
11 Investasi pada perusahaan asosiasi dan entitas anak
  • Jointly controlled operation, asset, and entity
  • Metode akuntansi
  • Metode konsolidasi proporsional
  • Metode ekuitas
  • Model nilai wajar (ED PSAK 12 : PBA/PBO/PBE)
Sama dengan PSAK kecuali metode akuntansi hanya menggunakan metode biaya.
12 Property Investasi Metode akuntansi

  • Model nilai wajar

Model biaya

Metode akuntansi: model biaya
13 Aset Tetap
  • Menggunakan pendekatan komponenisasi
  • Pengukuran menggunakan model biaya atau model revaluasi
  • Pengukuran biaya perolehan
  • Pengakuan pengeluaran selanjutnya
  • Penyusutan
  • Tidak perlu review nilai residu, metode penyusutan, dan umur manfaat setiap akhir periode pelaporan, tetapi jika ada indikasi perubahan saja
Sama dengan PSAK kecuali:

  • Tidak menggunakan pendekatan komponenisasi.
  • Revaluasi diijinkan jika dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah. Hal ini mengacu ke PSAK 16 (1994)
  • Tidak perlu review nilai residu.
14 Asset Tidak Berwujud
  • Prinsip umum untuk pengakuan
  • Pengakuan awal, pengukuran selanjutnya
  • Amortisasi selama umur manfaat atau 10 tahun

Penurunan nilai

Sama dengan PSAK, kecuali aset tidak berwujud yang diperoleh dari penggabungan usaha.
  • Menggunakan metode pembelian
  • Goodwill dimaortisasi 5 tahun atau 20 tahun dengan justifikasi manajemen
Tidak diatur
15 Sewa
  • Mengatur perjanjian yang mengandung sewa
  • Klasifikasi bersifat principle based
  • Laporan keuangan lessee dan
  • Tidak mengatur perjanjian yang mengandung sewa (ISAK 8)
lessor
  • Klasifikasi sewa: kombinasi IFRS for SMEs dan SFAS 13
  • Laporan keuangan lessee dan lessor menggunakan PSAK 30 (1990): Akuntansi Sewa Guna Usaha
  • Kewajiban diestimasi
  • Kewajiban kontinjensi
  • Aset kontinjensi
Sama dengan PSAK
16 Ekuitas
  • Penjelasan
  • Akuntasi ekuitas untuk badan usaha bukan PT
  • Akuntansi ekuitas untuk badan usaha berbentuk PT
  • Reorganisasi
  • Selisih penilaian kembali
Sama dengan PSAK, kecuali :

  • Reorganisasi
  • Selisih penilaian kembali
17 Pendapatan
  • Penjualan barang
  • Penjualan jasa
  • Kontrak konstruksi
  • Bunga, dividen dan royalti
  • Lampiran kasus pengakuan pendapatan (ED PSAK 23)
Sama dengan PSAK.
18 Biaya Pinjaman
  • Komponen biaya pinjaman
  • Pengakuan dan kapitalisasi biaya pinjaman
Biaya pinjaman langsung dibebankan
19 Penurunan Nilai Aset
  • Penurunan nilai persediaan
  • Penurunan nilai non-persediaan
  • Penurunan nilai goodwill
Sama dengan PSAK, kecuali:

  • Ruang lingkup yang meliputi semua jenis aset.
  • Tidak mengatur penurunan nilai goodwill
  • Ada tambahan penurunan nilai untuk pinjaman yang diberikan dan piutang yang menggunakan PSAK 31: Akuntansi Perbankan paragraf 16 dan 17.
20 Imbalan Kerja
  • Imbalan kerja jangka pendek
  • Imbalan pasca kerja, untuk manfaat pasti menggunakan PUC
  • Imbalan jangka panjang lainnya

Pesangon pemutusan kerja

Sama dengan PSAK, kecuali untuk manfaat pasti menggunakan PUC dan jika tidak bisa, menggunakan metode yang disederhanakan
21 Pajak Penghasilan
  • Menggunakan deferred taxconcept
  • Pengakuan dan pengukuran pajakkini
  • Pengakuan dan pengukuran pajaktangguhan
  • Menggunakan taxpayable concept
  • Tidak adapengakuan danpengukuran pajak tangguhan
22 Mata Uang Pelaporan
  • Mata uang pencatatan dan pelaporan
  • Mata uang fungsional
  • Penentuan saldo awal
  • Penyajian komparatif
  • Perubahan mata uang pencatatan dan pelaporan
Sama dengan PSAK Mata Uang Pelaporan

  • Mata uang fungsional
  • Pelaporan transaksi mata uang asing dalam mata uang fungsional
  • Perubahan mata uang fungsional (Pada prinsipnya sama)
23 Peristiwa setelah akhir periode pelaporan
  • Peristiwa yang memerlukan penyesuaian
  • Peristiwa yang tidak memerlukan penyesuaian
Sama dengan PSAK
24 Pengungkapan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa
  • Pengertian pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa
  • Pengungkapan
Sama dengan PSAK 7
25 Aktivitas Khusus
  • Akuntansi perkoperasian
  • Akuntansi minyak dan gas bumi
  • Akuntansi pertambangan umum
  • Akuntansi perusahaan efek
  • Akuntansi reksa dana
  • Akuntansi perbankan dan asuransi
Tidak diatur
26 Ketentuan Transisi
  • Retrospektif atau prospektif (jika tidak praktis) yang diterapkan secara prospective catchup (dampak ke saldo laba)
  • Perpindahan dari dan ke SAK ETAP
27 Tanggal Efektif Berlaku efektif untuk laporan keuangan yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2011, penerapan dini 1 Januari 2010

Pengertian IFRS

IFRS (International Financial Reporting Standards) merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).

Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB) yang dahulu bernama Komisi Standar Akuntansi Internasional (AISC), merupakan lembaga independen untuk menyusun standar akuntansi. Organisasi ini memiliki tujuan mengembangkan dan mendorong penggunaan standar akuntansi global yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat diperbandingkan.

Penerapan IFRS di Indonesia

  1. Menurut Sri Mulyani, konvergensi akuntansi Indonesia ke IFRS perlu di dukung agar Indonesia mendapatkan pengakuan maksimal dari komunitas internasional yang sudah lama menganut standar ini. “kalau standar itu dibutuhkan dan akan meningkatkan posisi indonesia sebagai negara yang bisa dipercaya di dunia dengan tata kelola dan pertanggungjawaban kepada rakyat dengan lebih baik dan konsisten, tentu itu perlu dilakukan” ujarnya.
  2. Menurut Rudy Suryanto, SE, M.Acc, AKT (dosen program studi akuntansi UMY). Sebenarnya penerapan IFRS di indonesia telah di mulai secara bertahap sejak tahun 2007, namunakan diterapkan penuh tahun 2012.

Saat standard internasional tidak berbeda dengan standard nasional, maka tidak akan ada masalah. Yang menjadi masalah, apabila standard internasional berbeda dengan standard nasional. Bila hal ini terjadi, maka yang didahulukan adalah standard nasional (rujukan pertama). Banyak pro dan kontra dalam penerapan standard internasional, namun seiring waktu Standard internasional telah bergerak maju.

Dengan pengadopsian IFRS memang diperuntukkan sebagai contoh bahwa dalam hidup kita memang mengalami perubahan, dan perubahan ini terjadi akibat adanya perkembangan dari segala aspek. Namun dalam mengadopsi IFRS , sayangnya masih terdapat pihak-pihak yang mungkin menentangnya, contoh alasannya adalah pemahaman yang mungkin masih dirasa kurang. Mengapa tidak, IFRS ini dalam penjelasannya masih menggunakan bahasa Inggris yang berarti kita harus menerjemahkannya kedalam bahasa yang sesuai dengan Negara yang akan menganutnya. Dengan ini, permasalahannya adalah kita memerlukan banyak waktu untuk menerjemahkan. Serta anggapan bahwa dengan pengubahan ini menimbulkan biaya yang lumayan besar, karena inilah pengadopsian IFRS di Indonesia belum berjalan.

Perbedaan SAK dengan IFRS

SAK IFRS
Sumber PSAK No.1 (Revisi 1998), Penyajian Laporan keuangan IAS1, Presentation of Financial Statements
Neraca Memerlukan penyajian aset lancar maupun aset tidak lancar kecuali untuk industri tertentu seperti bank Penyajian bukan aset lancar ataupun aset tidak lancar,hanya bila penyajian likuiditas lebih relevan dan dapat diandalkan untuk item tertentu
Laporan Kinerja Keuangan Laporan laba rugi Laporan laba rugi komprehensip
Laporan Laba/Rugi Sama seperti IFRS. Tetapi ,ada perbedaan rincian pada item yang disajikan pada laporan pendapatan yang diterima di muka Tidak memiliki format standar meskipun pengeluaran harus disajikan dengan memilih salah satu dari dua format
Laporan Arus Kas (Format dan Metode) Sama dengan IFRS tetapi dalam beberapa entitas harus menggunakan metode langsung Pos standar tetapi ketentuan terbatas pada isinya. Menggunakan metode langsung atau metode tidak langsung
Pos Luar Biasa Item pos luar biasa masih harus dilaporkan Didalam IFRS dilarang
Penyajian Keuntungan dan kerugian yang diakui/Pendapatan Komperhensif lainnya Diakui adanya keuntungan dan kerugian yang disajikan dalam laporan perubahan ekuitas pemegang saham Menyajikan laporan keuangan yang mengakui keuntungan dan kerugian dalam catatan terpisah ataupun tidak pada laporan perubahan ekuitas pemegang saham
Hasil Presentasi Perusahaan Asosiasi Secara khusus tidak memerlukan penunjukkan hasil saham sesudah pajak Menggunakan metode ekuitas yang menunjukkan hasil saham sesudah pajak
Pengungkapan Signifikan Tentang Asosiasi Pengungkapan yang kurang dibandingkan dengan IFRS .Informasi yang signifikan aktiva , kewajiban ,pendapatan , dan hasil yang tidak diperlukan Memberikan informasi yang rinci atau signifikan atas aktiva , kewajiban ,pendapatan dan hasil
Tanggung Jawab laporan Keuangan Manajemen Tidak diatur
Komponen Laporan Keuangan Neraca, Laporan laba-rugi,Laporan arus kas, Laporan Laporan posisi keuangan,Laporan laba-rugi

Pentingnya Standar Akuntansi Internasional

Alasan perlunya Standar Akuntansi International antara lain: Peningkatan daya banding laporan keuangan dan memberikan informasi yang berkualitas di pasar modal internasional. Menghilangkan hambatan arus modal internasional dengan mengurangi perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan. Mengurangi biaya pelaporan keuangan bagi perusahaan multinasional dan biaya untuk analisis keuangan bagi para analis.

Indonesia dan Konvergensi

Indonesia memutuskan untuk berkiblat pada Standar Pelaporan Keuangan Internasional atau IFRS. Konvergensi akuntansi Indonesia ke IFRS perlu didukung agar Indonesia mendapatkan pengakuan maksimal. Pengakuan maksimal ini didapat dari komunitas internasional yang sudah lama menganut standar ini. Jurang pemisah terdalam PSAK dengan IFRS telah teratasi yaitu dengan diperbolehkannya penggunaan nilai wajar (fair value) dalam PSAK.

Mengapa harus mengadopsi International Financial Reporting Standards (IFRS)? Dengan mengadopsi IFRS, Indonesia akan mendapatkan manfaat dari meningkatnya kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global, meluasnya pasar investasi lintas batas negara dan meningkatkan efisiensi alokasi modal. Teknologi informasi yang berkembang pesat telah mengubah lingkungan pelaporan keuangan. Kemajuan ini membawa jutaan investor (jika tidak milyaran) ke lantai pasar modal di seluruh penjuru dunia. Antusiasme para investor tidak akan terhalangi oleh batasan negara, misal: Investor dr Amerika bisa dengan mudah berinvestasi di Eropa atau di Singapore atau bahkan di Indonesia. Bukan hanya investor & analis yang membutuhkan informasi seperti ini, melainkan jg dibutuhkan oleh stakeholder lainnya. Upaya pemerintah Untuk meningkatkan kualitas IFRS akan melindungi investor dalam negeri, karena dengan penerapan standar internasional akan meningkatkan kepercayaan internasional untuk investasi di Indonesia.

Konvergensi IFRS ke dalam PSAK akan berdampak besar bagi dunia usaha, terutama dari sisi pengambilan kebijakan perusahaan yang didasarkan kepada data-data akuntansi. Suatu perusahaan akan memiliki daya saing yang lebih besar ketika mengadopsi IFRS dalam laporan keuangannya. Selain itu, dengan mengimplementasikan IFRS, perusahaan akan menikmati biaya modal yang lebih rendah. Juga konsolidasi yang lebih mudah & sistem teknologi informasi yang terpadu.

Tujuh manfaat sekaligus Penerapan IFRS :

  1. Meningkatkan kualitas standar akuntansi keuangan (SAK)
  2. mengurangi biaya SAK,
  3. meningkatkan kredibilitas & kegunaan lap. keuangan,
  4. meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan
  5. meningkatkan transparansi keuangan,
  6. menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalui pasar modal, dan terakhir
  7. meningkatkan efisiensi penyusunan laporan keuangan.

Strategi dan Target DSAK dalam Proses Konvergensi

Keputusan DSAK (Dewan Standard Akuntansi Keuangan) saat ini adalah mendekatkan PSAK dengan IAS/IFRS dengan membuat dua strategi:

  1. Strategi selektif, dilakukan dengan empat target yaitu; Target pertama, mengidentifikasi standar-standar yang paling penting untuk diadopsi seluruhnya. Target kedua, menentukan batas waktu penerapan standar yang diadopsi. Target ketiga, melakukan adopsi standar selebihnya yang belum diadopsi sambil merevisi standar yang telah ada. Dan target terakhir adalah melakukan konvergensi proses penyusunan standar dengan IASB.
  2. Untuk strategi kedua,strategi dual standard yang menerjemahkan seluruh IFRS sekaligus dan menetapkan waktu penerapannya bagi listed companies.

Penerapan kedua strategi tersebut harus mempertimbangkan lima hal, sebagai berikut:

  1. Konvergensi standar dan proses konvergensi itu sendiri.
  2. Ketersediaan dana untuk penerjemahan standar persediaan dana untuk penerjemahan standar.
  3. Ketentuan perundang-undangan di Indonesia.
  4. Sosialisasi standar dan peluang “moral hazards” dalam penyusunan laporan keuangan.
  5. Ketersediaan sumber daya manusia.

Sasaran konvergensi PSAK ke IFRS yang direncanakan Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI:

Tahap Adopsi
(2008 – 2010)
Tahap Persiapan Akhir
(2008 – 2010)
Tahap Implementasi
(2008 – 2010)
Adopsi seluruh IFRS ke PSAK Penyelesaian persiapan infrastruktur yang diperlukan Penerapan PSAK berbasis IFRS secara bertahap
Persiapan infrastruktur yang diperlukan Penerapan secara bertahap beberapa PSAK berbasis IFRS Evaluasi dampak penerapan PSAK secara komprehensif
Evaluasi dan kelola dampak adopsi terhadap PSAK yang berlaku

Jika kita bandingkan antara semua standar akuntansi yang dimiliki Indonesia dengan IFRS, dengan jelas kita temukan perbedan kuantitas sebagai berikut:

PSAK IFRS
43 Standards (PSAK)
8 Syari’ah Standard
11 Interpretation (ISAK)
4 Technical Bulletins
1 SAK ETAP (Entitas tanpa akuntanbilitas publik/UKM)
37 Standards
8 IFRS
29 IAS
27 Interpretation
16 IFRIC Interpretation
11 SIC

Di Indonesia juga masih terdapat Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) yang masih mengacu pada PSAK lama. Kemungkinan besar setelah konvergensi PSAK ke IFRS akan menyusul perubahan pada SAP. Tidak semua standar IFRS tersebut diatas dicontek habis dan dirubah menjadi PSAK, itulah mengapa IAI memilih konvergensi dari para adaption dan adoption. Sedikit gambaran saja untuk membedakan ketiga istilah tersebut saya jelaskan dalam tabel berikut:

Perbedaan Adaption Convergence Full Adoption
Arti harafiah Adaptasi/Penyelarasan Pertemuan pada suatu titik Adopsi/pemakaian
Standart akuntansi Membuat standar yang benar benar baru Membuat standar baru dengan mempertimbangkan keadaan yang berlaku Mentranslet standar lama menjadi standar baru
Contoh Negara Indonesia sebelum IFRS Indonesia setelah 2012 Australia, Hongkong

Mengutip pernyataan Prof Indra Wijaya dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, beliau mengatakan: “Indonesia mengadopsi secara penuh seperti Australia sangat tidak mungkin, adopsi yang mungkin adalah Mengadopsi IFRS berkarakteristik Indonesia yang lebih bersifat taylor-made namun memenuhi kebutuhan internasional serta dapat melepaskan diri dari tekanan dunia internasional”. Pernyataan itulah yang lebih tepat menjelaskan istilah konvergensi bagi Indonesia.

Berikut saya sajikan perkembangan konvergensi PSAK ke IFRS sampai dengan saat ini:

PSAK/ISAK yang berlaku efektif 2008 -2010

No PSAK/ISAK Ref Issued Effective Date
1 PSAK 13 Properti Investasi IAS 40 2007 1-Jan-08
2 PSAK 16 Aset Tetap IAS 16 2007 1-Jan-08
3 PSAK 30 Sewa IAS 17 2007 1-Jan-08
4 PSAK 14 Persediaan IAS 2 2008 1-Jan-09
5 PSAK 26 Biaya Pinjaman IAS 23 2008 1-Jan-10
6 PSAK 50 Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan IAS 32 2006 1-Jan-10
7 PSAK 55 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran IAS 39 2006 1-Jan-10
8 ISAK 8 Penentuan Apakah Suatu Perjanjian Mengandung Suatu Sewa dan Pembahasan Lebih Lanjut Ketentuan Transisi IFRIC 4 2007 Sep-10

PPSAK (Pencabutan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan)/ISAK yang berlaku efektif 2008 -2010

No PSAK/ISAK Issued Effective Date
1 PPSAK No.1 Pencabutan:
PSAK 32: Akuntansi Kehutanan
PSAK 35: Akuntansi Pendapatan Jasa Telekomunikasi
PSAK 37: Akuntansi Penyelenggaraan Jalan Tol
2009 1-Jan-10
2 PPSAK No.2 Pencabutan:
PSAK 41: Akuntansi Waran
PSAK 43: Akuntansi Anjak Piutang
2009 1-Jan-10
3 PPSAK No.3 Pencabutan:
PSAK 54: Akuntansi Restrukturisasi Utang Piutang Bermasalah
2009 1-Jan-10
4 PPSAK No.4 Pencabutan:
PSAK 31: Akuntansi Perbankan
PSAK 43: Akuntansi Perusahaan Efek
2009 1-Jan-10
5 PPSAK No.5 Pencabutan:
ISAK 06: Interpretasi atas Par.12 dan 16 PSAK 55 (1999) Tentang Instrumen Derivatif Melekat pada Kontrak dalam Mata Uang Asing
2009 1-Jan-10

PSAK yang berlaku efektif per 1 Januari 2011

No PSAK Ref
1 PSAK 1
Penyajian Laporan Keuangan
IAS 1
Presentation of Financial Statement
2 PSAK 2
Laporan Arus Kas
IAS 7
Statement of Cash Flow
3 PSAK 3
Laporan Keuangan Interim
IAS 34
Interim Financial Reporting
4 PSAK 4
Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri
IAS 27
Consolidated and Separated Financial Statement
5 PSAK 5
Segen Operasi
IFRS 8
Segment Reporting
6 PSAK 7
Pengungkapan Pihak-pihak yang Berelasi
IAS 24
Related Party Disclosures
7 PSAK 12
Bagian Partisipasi Dalam Ventura Bersama
IAS 31

Interest in Joint Ventures

8 PSAK 15
Investasi Pada Entitas Asosiasi
IAS 28
Investment in Associates
9 PSAK 19
Aset Tak Berwujud
IAS 38
Intangible Assets
10 PSAK 22
Kombinasi Bisnis
IFRS 3
Business Combination
11 PSAK 23
Pendapatan
IAS 18
Revenue
12 PSAK 25
Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi & Kesalahan
IAS 8
Accounting Policies, Change in Accounting Estimated and Errors
13 PSAK 48
Penurunan Nilai Aset
IAS 36
Impairment of Assets
14 PSAK 57
Provisi, Liabilitas Kontijensi & Aset Kontijensi
IAS 37
Provisions, Contingent Liabilities
15 PSAK 58
Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual & Operasi yang Dihentikan
IFRS 5
Non-current Assets Held for sale and Discontinued Operations

ISAK yang berlaku efektif per 1 Januari 2011

No ISAK Ref
1 ISAK 7
Konsoliasi Entitas Bertujuan Khusus
SIC 12
Consolidation – Special Purposes Entities
2 ISAK 9
Perubahan Atas Liabilitas Purna Operasi, Liabilitas Restorasi & Liabilitas Serupa
IFRIC 1
Change in Existing Decommissioning, Restoration and Similar Liabilities
3 ISAK 10
Program Loyalitas Pelanggan
IFRIC 13
Customer Loyalty Programs
4 ISAK 11
Distribusi Aset Non Kas Kepada Pemilik
IFRIC 17
Distributions of Non-Cash Assets to Owners
5 ISAK 12
Pengendalian Bersama Entitas: Kontribusi Nonmoneter oleh Venturer
SIC 13
Jointly Controlled Entities – Non Monetary Contributions by Venturers
6 ISAK 14
Aset Tak Berwujud: Biaya Situs Web
SIC 32
Intangible Assets – Web Site Costs

PSAK yang berlaku efektif per 1 Januari 2012

No PSAK Ref
1 PSAK 8
Peristiwa Setelah Tanggal Neraca
IAS 10
Event After Balance Sheet Date
2 PSAK 10
Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing
IAS 21
The Effect of Change in Foreign Exchange Rates
3 PSAK 34
Akuntansi Kontrak Konstruksi
IAS 11
Construction Contact
4 PSAK 46
Akuntansi Pajak Penghasilan
IAS 12
Income Taxes
5 PSAK 24
Imbalan Kerja
IAS 19
Employee Benefit
6 PSAK 18
Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya
IAS 26
Accounting and Reporting by Retirement Benefit Plans
7 PSAK 56
Laba per Saham
IAS 33
Earnings per Share
8 PSAK 53
Pembayaran Berbasis Saham
IFRS 2
Share-based payment
9 PSAK 28
Akuntansi Akuntansi Kerugian
IFRS 4
Insurance Contract
10 PSAK 36
Akuntansi Akuntansi Jiwa
11 PSAK 29
Akuntansi Minyak dan Gas Bumi
IFRS 6
Exploration for and Evaluation of Mineral Resources
12 New PSAK (ED PSAK 60) IFRS 7
Financial Instrument: Disclosure
13 New PSAK (ED PSAK 61) IAS 20
Accounting for Government Grants and Disclosure of Government Grant
14 New PSAK (ED PSAK 63) IAS 29
Financial Reporting in Hyper Inflationary
15 New PSAK IAS 41
Agriculture

ISAK yang berlaku efektif per 1 Januari 2012

No PSAK Ref
1 ISAK 13
Lindung Nilai Investasi Neto dalam Kegiatan Usaha Luar Negeri
IFRIC 16
Hedges of Net Investment in a Foreign Operation
2 ED ISAK 16
Perjanjian Konsesi Jasa
IFRIC 12
Service Concession Arrangements
3 ED ISAK 15
PSAK 24 – Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan Minimum dan Interaksinya
IFRIC 14
IAS 19 – The Limit on a Defined benefit Asset, Minimum Funding Requirement and their Interaction
4 ED ISAK 17
Laporan keuangan Interim dan penurunan Nilai
IFRIC 10
Interim Financial Reporting and Impairment

PSAK akan dicabut, dikaji dan direvisi berlaku efektif per 1 Januari 2012

No PSAK Ref
1 PSAK 21 Ekuitas Akan dicabut
2 PSAK 27 Akuntansi Koperasi Akan dicabut
3 PSAK 38 Restrukturisasi Entitas Sepengendali Masih dikaji
4 PSAK 44 Aktivitas pengembangan Real Estat Masih dikaji, kemungkinan diganti IFRIC 15
5 PSAK 51 Kuasi Reorganisasi Masih dikaji
6 PSAK 45 Akuntansi Entitas Nirlaba Direvisi
7 PSAK 47 Akuntansi Tanah Masih dikaji
8 PSAK 39 Akuntansi Kerjasama Operasi Masih dikaji

Perbedaan IFRS dengan PSAK.

Metode penyusunan perbedaan dilakukan dengan membandingkan antara konsep yang terdapat di IFRS dengan yang terdapat dalam PSAK dan disusun berdasarkan urutan standar yang digunakan IFRS.

Pendahuluan dan kerangka dasar (IAS 1; PSAK 1)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1. Cakupan

Pengaturan

Desain IFRS diperuntukkan untuk entitas yang bersifat profitoriented dan SME (Small Medium Enterprise). IFRS belum mengatur standar akuntansi untuk perusahaan

berbasis syariah.

SAK diperuntukkan untuk Entitas yang bersifat profitoriented,

Nirlaba, UKM (Usaha

kecil menengah) yang disebut SAK-ENTAP, dan Perusahaan

berbasis syariah.

Akan ada penerapan

standar yang bersifat setengah-setengah

terhadap perusahaan yang berbasis syariah.

2. Kerangka

Dasar

Memungkinkan penilaian aktiva

tetap berwujud dan tidak berwujud menggunakan nilai

wajar. Laporan keuangan harus disajikan dengan basis true and fair (IFRS Framework par 46)

Sama seperti IFRS, PSAK memberikan alternatif penggunaan nilai wajar untuk menilai kembali aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud. Laporan keuangan disajikan dengan basis “fairly stated” (Kerangka dasar par 46)
3. Pernyataan Kepatuhan akan Standar Entitas harus membuat

pernyataan eksplisit tentang kepatuhan akan standar IFRS

Entitas tidak harus membuat pernyataan kepatuhan akan SAK Harus dibuat pernyataan eksplisit akan kepatuhan pada

PSAK di CALK

4. Prinsip Ketepatan Waktu (Timeliness) Tidak diatur secara khusus kapan entitas menyajikan laporan keuangan Dianjurkan agar entitas menyajikan laporan keuangan paling lama 4 bulan setelah tanggal neraca Perlunya penyesuaian

aturan terkait dengan kewajiban entitas untuk memenuhi

kewajiban perpajakan dalam menyampaikan

SPT Tahunan paling lambat tanggal 31 Maret untuk WP Orang Pribadi dan 30 April untuk WP Badan

5. Basis Standar Menganut standar akuntansi berbasis prinsip untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan

keterbandingan laporan

keuangan antar entitas secara global.

Menganut standar akuntansi berbasis aturan.
6. Prinsip Konservatif Tidak lagi mengakui prinsip konservatif, namun diganti dengan prinsip kehati-hatian

(Prudence)

Masih mengkui prinsip konservatif

Pengungkapan Dan Penyajian Laporan Keuangan (IAS 1; PSAK 1 REV 1998)
No. Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1. Komponen Laporan Keuangan yang Lengkap Komponen laporan keuangan

lengkap terdiri atas :

-Laporan posisi keuangan (neraca)

– Laporan laba rugi

komprehensif

– Laporan perubahan ekuitas

– Laporan arus kas

– Catatan atas laporan

keuangan

-Laporan posisi keuangan komparatif awal periode dan penyajian retrospektif

terhadap penerapan

kebijakan akuntansi

Komponen laporan keuangan

lengkap terdiri atas :

– Neraca

– Laporan laba rugi

– Laporan perubahan ekuitas

– Laporan arus kas

– Catatan atas laporan

keuangan

2. Pengungkapan

dalam Laporan

posisi

keuangan

(neraca)

Berdasar ilustrasi IFRS:

Aset:

Asset Tidak Lancar

 

 

 

Aset Lancar

Ekuitas:

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepemilik entitas induk

 

Hak non-pengendali

Liabilitas

Liabilitas jangka panjang

 

Liabilitas jangka pendek

Berdasarkan PSAK:

Asset:

Aset Lancar

 

 

Aset Tidak Lancar

Liabilitas:

Liabilitas jangka pendek

 

Liabilitas jangka panjang

Ekuitas

Hak non-pengendali

 

Ekuitas yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk

3. Istilah minority interest Istilah minority interest (hak minoritas) diganti menjadi non controlling interest (hak non pengendali) dan disajikan dalam Laporan perubahan ekuitas. Menggunakan istilah hak minoritas
4. Pos luar biasa

(extraordinary

item)

Tidak mengenal istilah pos luar biasa (extraordinary item) Masih memakai istilah pos luar biasa (extraordinary item)
5. Penyajian

Laibilitas jangka panjang

yang akan

dibiayai

kembali

Laibilitas jangka panjang

disajikan sebagai Laibilitas

jangka pendek jika akan jatuh

tempo dalam 12 bulan

meskipun perjanjian

pembiayaan kembali sudah

selesai setelah periode

pelaporan dan sebelum

penerbitan laporan keuangan

Tetap disajikan sebagai

Laibilitas jangka panjang

Laporan Arus Kas (IAS 7, PSAK 2 REV 1994)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1. Metode Dianjurkan menggunakan metode langsung, namun metode tidak langsung tetap diperbolehkan Tidak ada pengaturan, kecuali untuk Perusahaan Publik (Listed Company) harus menggunakan Metode Langsung sesuai Peraturan Bapepam VIII G 7 yang telah diubah dengan KEP-06/PM/2000 Diperlukan pengaturan

lebih lanjut tentang

kebolehan penggunaan

kedua metode arus kas

ataukah hanya menggunakan metode

langsung dalam pelaporan keuangan

kepada publik dan pajak.

2. Arus kas terkait pos luar biasa Item pos luar biasa tidak diperbolehkan dalam IFRS Masih diperkenankan

menggunakan istilah pos luar biasa, dan diklasifikasikan sesuai dengan sifat transaksinya, apakah sebagai aktivitas operasi, investasi atau

pendanaan

Persediaan (IAS 2; PSAK 4 REV 2008)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pengukuran biaya Pengukuran persediaan

berdasarkan biaya atau net realizable value (nilai realisasi bersih) mana yang lebih rendah.

Sama dengan IFRS, Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau

nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah

2 Penggunaan Metode LIFO IFRS melarang penggunaan metode LIFO (Last In First

Out). Hanya boleh menggunakan metode FIFO atau rata-rata tertimbang

Dalam PSAK No 14

Rev 1994, penggunaan metode LIFO masih

diperbolehkan. Namun dalam Revisi tahun 2008 penggunaan metode LIFO sudah dilarang. Hanya digunakan metode FIFO (First in First Out) / MPKP (Masuk Pertama Keluar Pertama) atau Rata-rata tertimbang.

Diperlukan penyesuaian aturan terhadap pelarangan metode LIFO dalam

Konteks perpajakan.

Perubahan Kebijakan dan Prinsip Akuntansi dan Kesalahan Mendasar (IAS 8; PSAK 25 REV 1994)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Perubahan kebijakan atau prinsip akuntansi Dicatat secara retrospektif dan dilakukan penyajian kembali terhadap laba ditahan serta adanya penjelasan efek kumulatif perubahan pada saat periode dilakukan perubahan Sama seperti IFRS, dicatat secara retrospektif dan dilakukan penyajian kembali terhadap laba ditahan serta adanya penjelasan efek kumulatif perubahan pada saat periode dilakukan perubahan
2 Kesalahan mendasar Konsep kesalahan mendasar (fundamental error) dihapus dan diganti

dengan Prior period

error (Kesalahan periode lalu)

Masih memakai konsep kesalahan mendasar (Fundamental error)

yang disajikan secara retrospektif

3 Perubahan estimasi Perubahan estimasi

dicatat secara retrospektif dengan

cara melakukan

penyesuaian atas

laba atau rugi tahun

terjadinya perubahan

estimasi dan laba

rugi periode yang

akan datang jika

mempengaruhi

keduanya.

Sama seperti IFRS,

Perubahan estimasi dicatat secara retrospektif dengan cara melakukan penyesuaian atas laba atau rugi tahun terjadinya perubahan

estimasi dan laba rugi periode yang akan datang jika mempengaruhi keduanya.

Peristiwa Setelah Tanggal Neraca (IAS 10; PSAK 8 REV 2003)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pengungkapan Mengatur pengungkapan dan penyesuaian laporan

keuangan terkait peristiwa baik yang bersifat favorable maupun unfavorable yang terjadi antara akhir periode pelaporan hingga

tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit

Pengungkapan dan

penyesuaian laporan

keuangan terkait peristiwa baik yang

bersifat favorable

maupun unfavorable

yang terjadi antara

tangal neraca hingga

tanggal penyelesaian laporan keuangan

2 Penggunaan istilah Peristiwa setelah

tanggal neraca VS Peristiwa setelah akhir pelaporan

Istilah events after balance sheet date (peristiwa setelah tanggal neraca) direvisi menjadi Events after reporting period (Peristiwa setelah

periode pelaporan)

Masih menggunakan

istilah peristiwa setelah tanggal neraca

3 Penggunaan istilah Tanggal Laporan

keuangan

Diotorisasi untuk terbit

Terdapat istilah tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit (the date when the financial statements are

authorised for issue).

Memakai istilah

tanggal penyelesaian

laporan keuangan

Perlunya pendefinisian lebih

lebih mendalam

tentang istilah

Tanggal laporan

keuangan

diotorisasi untuk

terbit agar tidak

terjadi multi tafsir(sudah dicakup dalam

revisi PSAK 8

tahun 2010)

4 Pihak yang dapat mengubah laporan keuangan setelah

diterbitkan

Terdapat pengungkapan fakta adanya pihak yang dapat mengubah

laporan keuangan

setelah diterbitkan

jika ada

Tidak diatur

Kontrak Konstruksi (IAS 11; PSAK 34 REV 1994)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pengukuran Pendapatan IAS mengharuskan

penggunaan metode

persentase penyelesaian (percentage of

completion method)

untuk melakukan

pengakuan terhadap

pendapatan dan

beban jika realisasi

konstruksi dapat

diestimasi dengan

andal. IAS 11

memberikan

pedoman yang sangat terbatas dalam menentukan

estimasi realisasi

kontrak

Sama seperti IAS

Pajak Penghasilan (IAS 12; PSAK 46 REV 1997)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pengaturan IAS 12 mengatur tentang beda temporer (temporary difference) antara basis pajak dengan

basis komersil yang

dijadikan basis dalam mengakui aktiva atau

kewajiban pajak tangguhan

Sama dengan IFRS.
2 Perbedaan temporer dari Hibah pemerintah Mencakup perbedaan temporer akibat adanya hibah pemerintah

(government grants)

Tidak mengatur

Perlakuan perbedaan temporer akibat

hibah pemerintah

3 Pengakuan pajak

dari Goodwill

Pengakuan pajak tangguhan yang berasal dari Goodwill

yang muncul dari penggabungan usaha tidak diijinkan

Pengakuan pajak dari Goodwill dijinkan sepanjang diakui secara fiscal
4 Pengungkapan

pajak dari pos luar biasa

Tidak mengatur pengungkapan yang berasal dari pos luar biasa Pengungkapan

untuk beban (penghasilan) pajak

yang berasal dari

pos luar biasa serta sifat setiap jumlahnya.

5 Pengaturan PPh

Final

Tidak mengatur tentang PPh Final Mengatur konsep

pengenaan PPh Final karena di Indonesia terdapat pengaturan

perpajakan yang

bersifat pemungutan

atau pemotongan

Final

6 Pengaturan SKP

(Surat Ketetapan

Pajak)

Tidak mengatur tentang SKP Mengatur tentang

pengungkapan SKP,

termasuk SKP yang

diterima tidak dalam

periode terjadinya

yang akan mempengaruhi

konsekuensi pajak pada periode selanjutnya.

7 Pengaturan beda

temporer akibat

penerapan model

revaluasi sebagaimana diatur dalam IAS 16

Terdapat pengaturan beda temporer dari perbedaan basis

pelaporan fiscal dan komersial sebagai

konsekuensi penerapan model revaluasi sebagaimana diatur

dalam IAS 1

Tidak terdapat

pengaturan

Aktiva Tetap (IAS 16; PSAK 16 REV 2007)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Penilaian Aktiva Penerapan prinsip nilai wajar dalam penilaian Aset. Aktiva dapat diukur dengan

menggunakan dua pendekatan, yaitu model revaluasi dan model harga

perolehan.

Sama dengan IFRS Penggunaan jasa

Independent appraisal (penilai) akan berkembang

untuk asset yang

tidak dapat diukur

nilai pasarnya.

2 Selisih akibat

revaluasi

Nilai selisih akibat adanya revaluasi disajikan dalam

lapora laba rugi dan ekuitas

Sama dengan IFRS Harus dilakukan

penyesuaian

terhadap aturan

perpajakan terkait

pengenaan pajak

(PMK 79/2008),

seperti terhadap

selisih lebih revaluasi dan perolehan ijin untuk melakukan

revaluasi.

3 Metode Penyusutan Metode penyusutan yang digunakan harus ditelaah

secara periodik. Koreksi akibat penelaahan ini akan

diperlakukan sesuai dengan IAS 8. Dimungkinkan juga

perubahan terhadap metode penyusutan jika dalam hasil review terdapat perubahan signifikan dengan pola

pemanfaatan ekonomi yang diharapkan dari aktiva tersebut.

Sama dengan IFRS, dengan penyesuaian sesuai dengan PSAK 25 Perlunya penyesuaian

terhadap peraturan

permohonan ijin terhadap Ditjen Pajak untuk melakukan perubahan metode penyusutan.

4 Nilai Residu Manajemen harus melakukan review atas nilai residu dan masa manfaat aktiva setiap tahun. Jika terdapat perubahan, maka disesuaikan dengan menggunakan IAS 8 Sama dengan IFRS, dengan penyesuaian sesuai dengan PSAK 25

 

Sewa (IAS 17; PSAK 30 REV 2007)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Kapitalisasi Aktiva

Sewa

Aktiva sewa pembiayaan dikapitalisasi jika kontrak sewa mengalihkan secara substansial seluruh

resiko dan manfaat

terkait kepemilikan

aktiva. Suatu sewa

diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan-mengalihkan secara

substansial seluruh

resiko dan manfaat

terkait kepemilikan

aktiva.

Sama dengan IFRS
2 Kriteria Klasifikasi

Sewa Pembiayaan

Kriteria yang harus

dipenuhi untuk

diklasifikasikan

sebagai sewa pembiayaan:

– Pengalihan kepemilikan aktiva pada akhir masa sewa

– Lesse memiliki hak opsi untuk membeli dengan harga cukup

rendah di akhir masa sewa

– Masa sewa meliputi

sebagian besar umur ekonomis aktiva

– Pada awal sewa nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum mendekati nilai wajar aktiva

– Aktiva sewabersifat khusus dimana lessee

Yang menggunakannya tanpa perlu modifikasi

Sama dengan IFRS
3 Pengaturan tentang sewa pembiayaan tanah Tidak mengatur sewa pembiayaan tanah Mengatur tentang sewa tanah yang bisa diklasifikasikan sebagai sewapembiayaan

Pendapatan (IAS 18; PSAK 23 REV 1994)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pengakuan Pendapatan Pendapatan diakui jika dapat terukur dengan andal, manfaat ekonomi yang probable. Jika pendapatan diakui dari transaksi penjualan, maka pendapatan diakui jika resiko dan

manfaat aktiva yang

diperjual belikan

telah dialihkan pada

pembeli

Sama dengan IFRS
2 Pengakuan

pendapatan pada

industry khusus

Tidak diatur spesifik untuk pengakuan pendapatan industry khusus, seperti reksadana (PSAK 49),

Penyelenggaraan

jalan tol (PSAK 37), Asuransi jiwa (PSAK 36), Asuransi kerugian (PSAK 28),

Pertambangan

umum (PSAK 33),

Kehutanan (PSAK

32).

Harus dilakukan

penyesuaian

terhadap aturan

perpajakan terkait

pengenaan pajak

(PMK 79/2008),

seperti terhadap

selisih lebih revaluasi dan perolehan ijin untuk melakukan

revaluasi.

Imbalan Kerja (IAS 19; PSAK 24 REV 2004)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Pembagian imbalan kerja Imbalan kerja dibagi

dalam dua kelompok

yaitu imbalan kerja

jangka pendek dan

imbalan pasca kerja

Sama dengan IFRS
2 Metode penghitungan imbalan pasca kerja Dengan menggunakan

metode Projected

unit credit method

Sama dengan IFRS
3 Imbalan kerja ekuitas Tidak mengatur imbalan kerja ekuitas Mengatur imbalan

kerja berbasis ekuitas

Berdasar ED PSAK 24, Imbalan kerja

berbasis ekuitas

akan diatur dalam

PSAK 53 tentang

Pembayaran berbasis saham

Hibah Pemerintah (IAS 20; ED PSAK 61 2010)
No Perbedaan IFRS PSAK Efek Konvergensi
1 Bantuan pemerintah atau

hibah pemerintah

Hibah pemerintah,

termasuk yang bersifat moneter, diakui ketika terdapat kepastian bahwa entitas yang

menerima akan

memenuhi semua

persyaratan yang

diharuskan dalam ketentuan. Hibah akan diakui sebagai

laba pada periodeperiode

pelaporan dimana entitas

mengeluarkan biaya untuk memperoleh

hibah tersebut

Tidak mengatur

tentang hibah

pemerintah secara khusus

Dibuat PSAK

khusus tentang

pengungkapan

hibah pemerintah

yang saat ini masih berupa Exposure Draft, yaitu ED PSAK 61 tentang Akuntansi hibah

pemerintah dan

pengungkapan

bantuan pemerintah

Perbandingan IFRS dan PSAK (1)

IFRS PSAK
•         S/d status 2006, terdiri 37 standar dan 20 interpretasi:

–        7 new standards IFRS

–        30 standar IAS

–        9 new Interpretation (IFRIC)

–        11 Interpretasi (SIC)

•         Dimulai sejak 1974 (IAS)

•         Lebih merupakan standar umum, hanya ada 4 standar khusus industri

•         S/d status 2006, PSAK s/d 2006, terdiri dari 59 standar dan 6 interpretasi, umumnya diadopsi dari IAS, namun beberapa menggunakan referensi SFAS.

•         Dikembangkan sejak 1994 (PAI)

•         Ada banyak standar khusus industri (15 standar)

Menurut Ketua DSAK, khusus untuk 7 IFRS, sebenarnya hanya IFRS 1 yang belum diadopsi pengaturannya, sedangkan untuk 6 IFRS lainnya secara substansi sudah diatur dalam PSAK, walau masih ada beberapa perbedaan pengaturan di dalamnya.

Perbandingan IFRS dan PSAK (2)

IFRS PSAK
1.      First time adoption of IFRS

2.      Share-based payment

3.      Business Combinations

4.      Insurance Contract

5.      Non-Current Assets Held for Sale and Discontinued Operations

6.      Exploration for and Evaluation of Mineral Resources

7.      Financial Instruments: Disclosures

1.    Belum diadopsi.

2.    PSAK 53 belum adopsi IFRS 2, referensi menggunakan US SFAS 123.

3.    PSAK 22 belum mengadopsi IFRS 3, referensi menggunakan IAS 22 (1993).

4.    PSAK 28 dan 36, belum adopsi IFRS 4, referensi menggunakan US SFAS dan regulasi industri asuransi.

5.    PSAK 58 belum adopsi IFRS 5, referensi menggunakan IAS 35 (1998).

6.    PSAK 29 dan 33, belum adopsi IFRS 6, referensi US SFAS dan regulasi industri

7.    PSAK 31 dan 55, belum adopsi IFRS 7, referensi menggunaka IAS 30, US SFAS dan regulasi industri.

 Referensi

www.bimbie.com/akuntansi-keuangan-dan-standar-akuntansi-keuangan.html

http://mengenalekonomi.blogspot.com/2014/10/standar-akuntansi-keuangan-dan.html

Perkembangan Konvergensi PSAK ke IFRS

http://missmairmabriana.blogspot.co.id/2012/11/teori-akuntansi_10.html

Perbedaan SAK ETAP dengan PSAK

 

0

PERLAKUAN AKUNTANSI INDONESIA DALAM PANAMA PAPERS

Apa itu Panama Papers?

Panama merupakan negara jasa seperti Singapore yang terkenal dengan perlakuan pajak khusus tax haven seperti beberapa negara kecil kepulauan lainnya yang sangat mengandalkan pada penerimaan jasa, dan banyak membebaskan pajak bagi perusahaan dari mana saja.
Hal ini secara legal tidak terlalu bermasalah, namun yang menjadi masalah adalah jika koruptor, penguasa diktator, mafia, kartel narkoba dan penjudi mulai menaruh dananya ditempat itu. Kerahasiaan merupakan inti dari bisnis seperti firma hukum Mossack Fonseca selain kepiawaian dalam administrasi dan menemukan investasi bagi para nasabahnya.

Perihal Bocornya Dokumen Panama Paper

Lebih dari satu tahun sebelum dokumen Panama dibocorkan, surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung menerima dokumen terkait Mossack Fonseca dari satu sumber anonim. Harian ini mulai menerima material dalam jumlah besar; dalam kurun satu tahun, mereka memperoleh data berukuran 2,6 terabita berisi dokumen Mossack Fonseca tentang 214.488 perusahaan luar negeri milik pejabat pemerintahan. Bocoran ini terdiri dari 11,5 juta dokumen yang dibuat antara tahun 1970-an dan akhir 2015 oleh Mossack Fonseca.

Para wartawan berkomunikasi dengan sumber lewat saluran terenkripsi karena ia ingin identitasnya tidak diketahui: “Ada dua syarat. Nyawa saya terancam. Obrolan kita harus terenkripsi. Kita tidak boleh bertemu sama sekali.” Wartawan Süddeutsche Zeitung Bastian Obermayer menyatakan bahwa sumbernya memutuskan untuk membocorkan dokumen tersebut karena ia menganggap Mossack Fonseca bertindak secara tidak etis. Menurutnya, “sumber mengira bahwa kantor hukum di Panama ini membahayakan dunia, dan sumber ingin mengakhirinya. Itu salah satu motivasinya.”

International Consortium of Investigative Journalists memimpin penelitian dan peninjauan dokumen. Mereka mengerahkan wartawan dan staf The Guardian, BBC England, Le Monde, SonntagsZeitung, Falter, dan La Nación serta stasiun TV Jerman Norddeutscher Rundfunk dan Suddeutscher Rundfunk dan stasiun TV Austria ORF. Tim wartawan awalnya bertemu di Munich, Lillehammer, London, dan Washington, D.C., untuk menyusun penelitian mereka. Datanya kemudian disebarkan dan dianalisis oleh kurang lebih 400 wartawan di 107 organisasi media di lebih dari 80 negara. Setelah lebih dari satu tahun, laporan berita pertama berdasarkan dokumen ini beserta 149 berkas dokumennya diterbitkan tanggal 3 April 2016. Daftar lengkap perusahaan yang terlibat akan dirilis pada awal Mei 2016.

Ukuran dokumen yang dibocorkan ini mengalahkan Wikileaks Cablegate (1,7 GB), Offshore Leaks (260 GB), Lux Leaks (4 GB), dan Swiss Leaks (3,3 GB). Data bocoran ini terdiri dari surat elektronik, berkas PDF, foto, dan berkas pangkalan data internal Mossack Fonseca. Semua data diterbitkan mulai tahun 1970-an sampai musim semi 2016. Panama Papers mencantumkan nama 214.000 perusahaan. Terdapat folder untuk setiap perusahaan cangkang (shell company) yang berisi surel, kontrak, transkrip, dan dokumen pindaianBocoran ini terdiri dari 4.804.618 surel, 3.047.306 berkas format pangkalan data, 2.154.264 PDF, 1.117.026 foto, 320.166 berkas teks, dan 2.242 berkas berformat lain.

Semua data ini harus diindeks secara rapi. Pengindeksan dilakukan menggunakan perangkat lunak berbayar bernama Nuix yang juga dipakai oleh para penyidik internasional. Dokumen menjalani proses OCR oleh komputer berkecepatan tinggi agar datanya dapat dibaca dan dicari secara digital. Daftar tokoh penting diperiksa ulang dengan dokumen yang diproses tadi. Tahap selanjutnya adalah menghubungkan tokoh, peran, arus uang, dan keabsahan strukturnya.

Di Indonesia, nama-nama para miliarder ternama yang setiap tahun masuk dalam daftar orang terkaya versi Forbes Indonesia juga bertebaran dalam dokumen Mossack Fonseca. Mereka membuat belasan perusahaan offshore untuk keperluan bisnisnya. Salahsatunya adalah Sandiaga Uno, pebisnis terkemuka yang kini tengah mencalonkan diri menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Ditanya soal ini, Sandiaga mempersilakan media mempublikasikan nama-nama perusahaan offshore miliknya. “Saya memang punya rencana membuka semuanya karena saya sekarang dalam proses mencalonkan diri menjadi pejabat publik,” katanya pada reporter Tempo, akhir Maret 2016 lalu.

Seperti banyak klien Mossack Fonseca lain, tidak ada bukti bahwa Jackie Chan atau Sandiaga Uno, menggunakan perusahaannya untuk tujuan tak terpuji. Memiliki perusahaan offshore bukanlah sesuatu yang otomatis ilegal. Untuk sejumlah transaksi internasional, memiliki perusahaan offshore bahkan merupakan sebuah pilihan yang logis secara bisnis.

 

Namun, dokumen Mossack Fonseca mengindikasikan bahwa klien dari firma itu meliputi penipu skema ponzi, mafia narkoba, penggelap pajak, dan setidaknya satu terpidana kasus pelecehan seks yang sedang dipenjara. Catatan menunjukkan bahwa ada satu pengusaha asal Amerika yang ditangkap setelah bepergian ke Rusia untuk berhubungan seks dengan anak-anak yatim piatu, sempat meneken sebuah dokumen untuk perusahaan offshore-nya, ketika dia sedang dipenjara di New Jersey.

Di Indonesia, dua nama yang kerap dicari penegak hukum untuk kepentingan penyidikan kasus korupsi, yakni Muhammad Riza Chalid dan Djoko Soegiarto Tjandra, juga tercantum dalam dokumen yang bocor ini.

Satu alat yang efektif untuk membongkar jejaring gelap ini adalah pembocoran berbagai dokumen offshore yang bisa menyeret semua transaksi gelap ini ke tempat yang lebih terbuka. Kepada Tempo, Menteri Keuangan Indonesia Bambang Brodjonegoro menjelaskan bahwa pemerintah sudah mengantongi data mengenai ribuan perusahaan offshore dan perusahaan cangkang milik orang Indonesia di luar negeri. “Nilainya ribuan triliun rupiah,” kata Bambang. UU Pengampunan Pajak yang sedang dibahas di Senayan, kata dia, adalah upaya pemerintah menarik pulang semua dana itu. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa berbagai kebocoran dokumen yang diungkap oleh ICIJ dan media mitranya, cukup efektif untuk mendorong adanya legislasi baru dan dimulainya penyidikan di belasan negara. Laporan semacam ini juga membuat para klien offshore ketakutan suatu saat rahasia mereka bakal terbongkar. Kita akui dalam masalah Panama Papers tak selalu merupakan upaya penggelapan atau penghindaran pajak atau aksi pencucian uang. Namun bagi logika publik menduga bahwa skandal panama papers adalah tindakan negatif dan lebih hanya sebagai upaya skandal penggelapan pajak atau aksi pencucian uang.

Banyak kalangan menyebut, sudah pasti ada niat jahat daripada para pejabat negara dan wakil rakyat yang memanfaatkan firma hukum Mossack Fonseca (MF) di Panama. Misalnya untuk menutupi kepemilikan perusahaan, manipulasi pajak, atau pencucian uang.

Oleh karena itu, para pejabat negara dan wakil rakyat yang terungkap dan terkait dengan Panama Papers harus mundur dan jangan mengelak dengan alasan belum terbukti secara hukum karena pejabat di negara lain langsung mundur begitu diumumkan terkait dengan firma hukum di Panama tersebut.

Sudah saatnya kita buka-bukaan siapa saja orang-orang kaya, pejabat, politisi, dan pengusaha Indonesia yang berlangganan jasa Mossack Fonseca. Masalah ini jangan ditutup-tutupi atau dianggap remeh.

 

Pajak dan Zakat Panama Papers

Menghindari pajak dan zakat?

Pastilah semua orang ingin menghindari dan mengelak dari pajak karena membayar pajak adalah mengurangi apa yang dimiliki. Namun seperti yang pernah dikatakan oleh Benjamin Franklin (1706-1790) bahwa pajak sama dengan kematian, keduanya adalah pasti.

Suka tidak suka, Pasal 23A UUD 1945 menyatakan kewajiban pajak bagi siapapun yang tinggal di Indonesia dengan ketentuan berlaku yang kemudian ditambah dengan undang–undang perpajakan yang terperinci.

Boleh dikatakan hampir sama dengan pajak, sebagian masyarakat muslim ingin menghindari atau mengelak dari kewajiban berzakat.

Mahmoud El-Gamal, seorang Guru Besar di Rice University, Houston, Amerika, pernah mengatakan kepada penulis bahwa banyak orang kaya muslim di berbagai negara yang hidup mewah tapi tidak mau membayar zakat. Padahal, rumah yang ditinggalinya dengan segala perabotnya bernilai milyaran dolar.

Kesadaran membayar zakat dengan perhitungan yang benar juga masih minim di Indonesia, buktinya potensi pengumpulan zakat masih sangat rendah dari apa yang diharapkan. Salah satu penyebabnya adalah karena tidak ada perintah wajib pungut zakat.

Adapun perhitungan serta penyerahan kepada penerima zakat (mustahik) diserahkan sepenuhnya kepada pembayar zakat (muzakki).

Lain halnya ketika masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a yang memerangi siapapun yang tidak membayarkan zakat kepadanya selaku pemimpin setelah Rasulullah SAW wafat (Kitab Bidayah Wan Nihayah hal 84).

Para aktivis zakat saat ini hanya mampu mengingatkan tentang kewajiban zakat yang pada dasarnya bukan mengurangi harta tetapi untuk menyucikan dan membersihkan yang akan berakhir dengan keberkahan.

Jadi bisa saja orang- orang kaya yang ada dalam daftar Panama Papers juga melakukan pengelakan zakat (zakat evasion) atau mungkin juga tidak, hanya yang bersangkutan dan Allah SWT yang tahu.

Yang pasti, ketika mereka terbukti mengelak dari kewajiban pajak, mereka mungkin akan mendapatkan sangsi atau hukuman dari pemerintah.

Sementara, kalau benar mereka tidak menunaikan kewajiban zakat, maka pasti keberkahan harta mereka akan lenyap secara perlahan, dan hukuman Allah pasti lebih pedih dari hukuman di dunia.

“Tidaklah seorang pemilik harta benda yang tidak membayar zakatnya, melainkan pada hari kiamat akan dibuatkan untuknya seterika api yang dipanaskan di neraka Jahannam, kemudian diseterikakan pada lambungnya, dahinya dan punggungnya” (HR. Muslim No. 1648, shahih).

 

Referensi

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/04/12/181225326/Pajak.dan.Zakat.Panama.Papers

http://www.esquire.co.id/article/2016/4/2889-7-Hal-yang-Perlu-Anda-Ketahui-Tentang-Skandal-Panama-Paper

https://investigasi.tempo.co/panama/

http://nasional.harianterbit.com/nasional/2016/04/17/60195/0/25/Tajuk-Gebrakan-Jokowi-dan-Panama-Papers

https://id.wikipedia.org/wiki/Panama_Papers

0

ANGLO SAXON & NON ANGLO SAXON

Pengertian Anglo Saxon

Anglo Saxon merupakan suatu sistem hukum yang berasal dari Inggris yang kemudian menyebar ke Amerika Serikat dan negara-negara bekas jajahannya, dan dikenal dengan istilah Common Law atau Unwriten Law (hukum tidak tertulis). Sistem Anglo Saxon adalah suatu sistem hukum yang didasarkan pada yurisprudensi, yaitu keputusan-keputusan hakim terdahulu yang kemudian menjadi dasar putusan hakim-hakim selanjutnya. Sistem hukum ini diterapkan di Irlandia, Inggris, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Kanada (kecuali Provinsi Quebec) dan Amerika Serikat (walaupun negara bagian Louisiana mempergunakan sistem hukum ini bersamaan dengan sistem hukum Eropa Kontinental Napoleon). Selain negara-negara tersebut, beberapa negara lain juga menerapkan sistem hukum Anglo-Saxon campuran, misalnya Pakistan, India dan Nigeria yang menerapkan sebagian besar sistem hukum Anglo-Saxon, namun juga memberlakukan hukum adat dan hukum agama. Sistem hukum anglo saxon, sebenarnya penerapannya lebih mudah terutama pada masyarakat pada negara-negara berkembang karena sesuai dengan perkembangan zaman. Pendapat para ahli dan prakitisi hukum lebih menonjol digunakan oleh hakim, dalam memutus perkara.

Sistem hukum Eropa Continental (Non Anglo Saxon) banyak dianut dan dikembangkan di negara-negara eropa. Sistem hukum eropa kontinental biasa disebut dengan istilah Civil Law atau yang disebut juga sebagai “Hukum Romawi”. Sistem hukum ini disebut sebagai hukum romawi karena sistem hukum eropa kontinental memang bersumber dari kodifikasi hukum yang digunakan pada masa kekaisaran romawi tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Yustinianus yang memerintah romawi pada sekitar abad ke-5 antara 527 sampai dengan 565 M. Prinsip utama atau prinsip dasar sistem hukum Eropa Kontinental ialah bahwa hukum itu memperoleh kekuasaan mengikat karena berupa peraturan yang berbentuk undang-undang yang tersusun secara sistematis dalam kodifikasi. Kepastian hukumlah yang menjadi tujuan hukum. Kepastian hukum dapat terwujud apabila segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup diatur dengan peraturan tertulis, misalnya UU. Dalam sistem hukum ini, terkenal suatu adagium yang berbunyi ”tidak ada hukum selain undang-undang”. Dengan kata lain hukum selalu diidentifikasikan dengan undang-undang.

Perbedaan yang paling mendasar antara Sistem Hukum Eropa Continental (Eropa) dan Sistem Hukum Anglo-Saxon (AS).

Pada Sistem Hukum Eropa Continental, filosofinya tampak pada sifat-sifatnya yang represif, yang cenderung melindungi yang berkuasa. Sedangkan Sistem Hukum Anglo Saxon selain tentunya ada sifat yang represif, namun sifat penekanannya lebih mengutamakan pada sifat-sifat yang preventif. Pasal-pasalnya merupakan rambu-rambu untuk mencegah munculnya KKN dalam segala bentuk maupun manifestasinya. Selain mencegah terjadinya white collar crime dan corporate crime juga untuk mencegah terjadinya distorsi, keharusan memberikan proteksi bagi kepentingan umum dan bukan untuk kepentingan orang perorang, serta menjamin partisipasi dan pengawasan sosial secara transparan dan demokratis.

Selain hal tersebut di atas, terdapat hal lain yang membedakan antara Sistem Hukum Eropa Kontinental dan Sistem Hukum Anglo-Saxon sebagai berikut:

  1. Sistem Hukum Eropa Kontinental mengenal sistem peradilan administrasi, sedang Sistem Hukum Anglo-Saxon hanya mengenal satu peradilan untuk semua jenis perkara.
  2. Sistem Hukum Eropa Kontinental menjadi modern karena pengkajian yang dilakukan oleh perguruan tinggi sedangkan Sistem Hukum Anglo-Saxon dikembangkan melalui praktek prosedur hukum.
  3. Hukum menurut Sistem Hukum Eropa Kontinental adalah suatu sollen bulan sein sedang menurut Sistem Hukum Anglo-Saxon adalah kenyataan yang berlaku dan ditaati oleh masyarakat.
  4. Penemuan kaidah dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan atau penyelesaian sengketa, jadi bersifat konsep atau abstrak menurut Sistem Hukum Eropa Kontinental sedang penemuan kaidah secara kongkrit langsung digunakan untuk penyelesaian perkara menurut Sistem Hukum Anglo-Saxon.
  5. Pada Sistem Hukum Eropa Kontinental tidak dibutuhkan lembaga untuk mengoreksi kaidah sedang pada Sistem Hukum Anglo-Saxon dibutuhkan suatu lembaga untuk mengoreksi, yaitu lembaga equaty. Lembaga ini memberi kemungkinan untuk melakukan elaborasi terhadap kaidah-kaidah yang ada guna mengurangi ketegaran.
  6. Pada Sistem Hukum Eropa Kontinental dikenal dengan adanta kodifikasi hukum sedangkan  pada Sistem Hukum Anglo-Saxon tidak ada kodifikasi.
  7. Keputusan hakim yang lalu (yurisprudensi) pada Sistem Hukum Eropa Kontinental tidak dianggap sebagai kaidah atau sumber hukum sedang pada Sistem Hukum Anglo-Saxon keputusan hakim terdahulu terhadap jenis perkara yang sama mutlak harus diikuti.
  8. Pada Sistem Hukum Eropa Kontinental pandangan hakim tentang hukum adalah lebih tidak tekhnis, tidak terisolasi dengan kasus tertentu sedang pada Sistem Hukum Anglo-Saxon pandangan hakim lebih teknis dan tertuju pada kasus tertentu.
  9. Pada Sistem Hukum Eropa Kontinental bangunan hukum, sistem hukum, dan kategorisasi hukum didasarkan pada hukum tentang kewajiban sedang pada Sistem Hukum Anglo-Saxon kategorisasi fundamental tidak dikenal.
  10. Pada Sistem Hukum Eropa Kontinental strukturnya terbuka untuk perubahan sedang pada Sistem Hukum Anglo-Saxon berlandaskan pada kaidah yang sangat kongrit diterima sebagai hukum oleh masyarakat.

Perkembangan Akuntansi

Perkembangan akuntansi ditandai dengan adanya seorang yang bernama Lucas Pacioli pada tahun 1494, ahli matematika mengarang sebuah buku yang berjudul Summa de Aritmatica, Geometrica, Proportioni et Propotionalita. Dalam salah satu bab yang berjudul Tractatus de Computies et Scriptoris, ia memperkenalkan dan mengajarkan sistem pembukuan berpasangan yang disebut dengan sistem kontinental. Sistem ini diperkenalkan oleh Luca Pacioli bersama Leonardo da Vinci, dan sudah dipakai untuk melakukan pencatatan upah sejak zaman Babilonia. Sistem Kontinetal merupakan pencatatan semua transaksi ke dalam dua bagian, yaitu debit dan kredit secara seimbang dan menghasilkan pembukuan yang sistematis serta laporan keuangan yang terpadu. Dengan menggunakan sistem ini perusahaan mendapatkan gambaran tentang laba rugi usaha, kekayaan perusahaan, serta hak pemilik.

Sistem yang berkembang saat ini ada dua yaitu sistem Belanda (Sistem Continental) dan Amerika serikat (Sistem Anglo Saxon). Saat ini sistem yang paling banyak digunakan yaitu Sistem Anglo Saxon. Pada sistem Anglo Saxon, pembukuan merupakan bagian dari akuntansi. Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusuri pada era penjajahan Belanda sekitar abad 17 sekitar tahun 1642. Praktik akuntansi di Indonesia dapat di temui pada tahun 1747, yaitu praktik pembukuan yang dilaksanakan Amphioen Socitey yang berkedudukan di Jakarta. Belanda memperkenalkan sistem pembukuan berpasangan (Double-entry bookkeeping) sebagaimana yang dikembangkan oleh Luca Pacioli.

Perusahaan milik Belanda yang merupakan organisasi komersial utama selama masa penjajahan memainkan peranan penting dalam praktik bisnis di Indonesia. Meningkatnya jumlah institusi pendidikan tinggi yang menawarkan pendidikan akuntansi, seperti pembukaan jurusan akuntansi di Universitas Indonesia 1952, Institut Ilmu Keuangan (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara-STAN) 1990, Universitas Padjajaran 1960, Univeritas Sumatra Utara 1960, Universitas Airlangga 1960 dan Universitas Gajah Mada 1964, telah mendorong pergantian praktik akuntansi model Belanda dengan model Amerika pada tahun 1960.

Akuntansi cara Amerika (Anglo Saxon) mulai diperkenalkan di Indonesia. Jadi, sistem pembukuan yang dipakai di Indonesia berubah dari sistem Eropa (Kontinental) ke sistem Amerika (Anglo Saxon). Di Inggris, bursa efek pasar dan profesi akuntansi juga berpengaruh dalam proses akuntansi peraturan. Inggris laporan tahunan dan piutang terdiri dari laba konsolidasi dan akun rugi, neraca dan laporan arus kas. Untuk menilai review operasi secara tahunan, laporan direktur adalah harus selalu disertakan. Dalam praktek konsolidasi, metode pembelian biasanya diikuti meskipun dalam beberapa kasus, dan merger akuntansi atau metode penyatuan mungkin diperlukan. Berkaitan dengan praktek pengukuran mereka, Inggris menerapkan pendekatan konservatif daripada kebanyakan negara-negara Anglo Saxon dimana ada selisih penilaian kembali aktiva tetap seperti tanah dan bangunan untuk nilai pasar. Persediaan biaya juga ditentukan dengan metode masuk pertama dalam metode first out (FIFO) diizinkan untuk keperluan pajak, sedangkan terakhir di first-out (LIFO) metode tidak diperbolehkan.

Dengan adanya sistem akuntansi Anglo Saxon, Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia membawa dampak positif terhadap perkembangan akuntansi. Tahun 1970 semua lembaga di Indonesia mengadopsi sistem akuntansi Anglo Saxon.

Referensi

http://rizalwirahadi.blogspot.co.id/2013/02/sistem-hukum-anglo-saxon-dan-sistem.html

http://airdanruanggelap.blogspot.co.id/2013/04/anglo-saxon-eropa.html

http://akil-laziale.blogspot.co.id/

http://astamiact.blogspot.co.id/2016/05/anglo-saxon-dan-non-anglo-saxon.html

0

Pentingnya Mempelajari Akuntansi Internasional

Suatu kegiatan di bidang akuntansi pada saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, dimana beberapa definisi tentang akuntansi muncul berdasarkan pada sudut pandang. American Accounting Association mendefinisikan akuntansi sebagai proses identifikasi, pengukuran, dan komunikasi informasi ekonomi untuk memungkinkan pembuatan pertimbangan-pertimbangan dan keputusan-keputusan oleh para pemakai informasi tersebut. Informasi ekonomi yang dihasilkan proses akuntansi merupakan ikhtisar data transaksi keuangan perusahaan yang terjadi selama suatu periode tertentu. Oleh karena itu, sasaran (objek) kegiatan akuntansi ialah transaksi yang bersifat finansil (keuangan), atau transaksi yang pengaruhnya dapat diukur dengan satuan uang.

Akuntansi merupakan sistem informasi organisasi baik bisnis maupun non-bisnis yang fungsinya menyajikan informasi keuangan untuk pihak-pihak yang berkepentingan. Perkembangan hubungan organisasi dan bisnis menuju hubungan global, mengharuskan rekaya informasi keuangan juga harus dapat menghasilkan informasi yang dapat memenuhi kebutuhan organisasi global.

Selain itu, tujuan dari akuntansi adalah untuk menyediakan informasi yang dapat digunakan oleh pengambil keputusan untuk membuat keputusan ekonomi. Agar tujuan itu dapat tercapai, informasi yang disediakan harus mampu memberikan informasi tentang alternatif penggunaan sumber daya yang langka dalam melaksanakan aktivitas bisnis dan ekonomi. Hubungan yang terjadi antara akuntansi dengan pengambil keputusan adalah bahwa pengambil keputusan sangat membutuhkan informasi dan akuntansi menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pengambil keputusan. Informasi tersebut disediakan oleh akuntan dalam bentuk laporan keuangan sebagai hasil akhir dari sistem akuntansi. Laporan ini didasarkan pada pengumpulan dan pemrosesan data dari kejadian-kejadian ekonomi suatu entitas (Heti et al, 2005:2).

Dalam hal ini, akuntansi memainkan peranan yang sangat penting dalam masyarakat. Sebagai cabang ilmu ekonomi, akuntansi memberikan informasi mengenai suatu perusahaan dan transaksinya untuk memfasilitasi keputusan alokasi sumber daya oleh para pengguna informasi tersebut. Jika informasi yang dilaporkan dapat diandalkan dan bermanfaat, sumber daya yang terbatas tersebut dialokasikan secara optimal, dan sebaliknya alokasi sumber daya akan menjadi kurang optimal jika informasi kurang dapat diandalkan atau tidak bermanfaat.

Proses akuntansinya pun tidaklah berbeda dengan kualifikasi standar pelaporan tertentu yang diatur secara internasional maupun lokal pada negara tertentu. Tetapi juga penting untuk diketahui mengenai dimensi internasional dari proses akuntansi pada tiap negara yang berbeda. Dimana perbedaan itu meliputi : perbedaan budaya, praktik bisnis, struktur politik, sistem hukum, nilai mata uang, tingkat inflasi lokal, resiko bisnis, dan serta aturan perundang-undangan mempengaruhi bagaimana perusahaan multinasional melakukan kegiatan operasionalnya dan memberikan laporan keuangannya.

Sebagai permulaan, sistem pembukuan berpasangan (double-entry bookkeeping), yang umumnya dianggap sebagai awal penciptaan akuntansi seperti yang diketahui saat ini, bermula dari sebuah kota di Italia pada abad ke-14 dan 15. Perkembangannya didorong oleh pertumbuhan perdagangan internasional di Italia Utara selama masa akhir abad pertengahan dan keinginan pemerintah untuk menemukan cara dalam mengenakan pajak terhadap transaksi komersial. Sejak itu, “pembukuan ala Italia” beralih ke Jerman, Perancis, dan negara-negara berdataran rendah. Dari sana, kemudian mencapai Inggris yang sebagai penguasa ekonomi dunia selama abad ke-17 dan 18 membuat Inggris menjadi misionaris yang ideal bagi akuntansi. Pengaruh Inggris menyebarkan tehnik-tehnik akuntansi tidak hanya ke Amerika Utara tetapi keseluruh negara persemakmuran Inggris yang ada waktu itu..

Perkembangan yang serupa juga terjadi ketika akuntansi Belanda dibawa ke Indonesia dan Afrika Selatan. Perancis memastikan bahwa Polinesia dan teritori-teritori yang diatur Perancis di Afrika bergantung pada sistem akuntansi Perancis dan Jerman dalam memperluas pengaruh akuntansinya antara lain ke Jepang, Swedia, dan Rusia.

Seiring dengan pertumbuhan pengaruh ekonomi Amerika Serikat selama pertengahan pertama abad ke-20. Sekolah-sekolah bisnis membantu perkembangan tersebut dengan merumuskan bidang-bidang masalah dan pada akhirnya mengakuinya sebagai suatu disiplin ilmu akademik sendiri pada berbagai sekolah tinggi dan universitas. Setelah Perang Dunia II, pengaruh akuntansi semakin terasa dengan sendirinya pada Dunia Barat, khususnya di Jerman dan Jepang. Pada tingkatan yang agak kurang, faktor yang sama juga dapat dilihat secara langsung di negara-negara seperti Brasil, Israel, Meksiko, Filipina, Swedia, dan Taiwan.

Sekilas dari sejarah akuntansi yang terjadi diatas, lingkungan suatu entitas ekonomi menjadi dinamis, akuntansi harus terus berkembang sehingga mampu memberikan informasi yang diperlukan bagi pengambil keputusan pada setiap perubahan lingkungan bisnis. Saat ini, kita hidup di ekonomi global. Sumber-sumber alam, keuangan dan manusia dengan mudah dipindah dari suatu negara ke negara lain dengan cepat, mudah, dan efisien. Akuntansi internasional memberikan informasi yang berharga bagi pengambil keputusan di era ekonomi global. Informasi ini dapat menolong dalam memutuskan alokasi sumber daya yang memaksimalkan keuntungan. Oleh karena itu, akuntansi internasional sangat penting untuk dipelajari.

Akuntansi Internasional didefinisikan sebagai akuntansi untuk transaksi internasional, perbandingan prinsip akuntansi di negara-negara yang berbeda dan harmonisasi berbagai standar akuntansi. Definisi ini meliputi kebutuhan dalam bidang keuangan, pajak, auditing, dan bidang akuntansi lainnya. Selain itu juga meliputi perbedaan standar akuntansi dari berbagai negara dan harmonisasi berbagai praktek akuntansi di Seluruh dunia (Heti et al, 2005:2).

Akuntansi internasional memiliki peranan yang sangat penting dalam masyarakat. Akuntansi internasional juga memiliki konteks yang lebih luas, dimanan lingkup pelaporannya adalah untuk perusahaan multinasional dengan transaksi dan opersasi lintas batas negara atau perusahaan dengan kewajiban pelaporan kepada para pengguna laporan di negara lain.

Sejarah Singkat Akuntansi Internasional

Akuntansi dimulai dengan sistem pembukaan berpasangan(double ebtry bookeping) di italia pada abad ke 14 dan 15. Sistem pembukuan berpasangan dianggap awal penciptaan akuntansi. Akuntansi internasional dimulai sejak double entry accounting ditemukan dan digunakan didalam kegiatan bisnis yaitu sistem pencatatan berganda yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli (1447).

Perkembangan sistem akuntansi ini didorong oleh pertumbuhan perdagangan internasional di Italia Utara selama masa akhir abad pertengahan dan keinginan pemerintah untuk menemukan cara dalam mengenakan pajak terhadap transaksi komersial.

Selain itu model akuntansi Belanda diekspor antara lain ke Indonesia, sistem akuntansi Perancis di Polinesia dan wilayah-wilayah Afrika dibawah pemerintahan Perancis. Kerangka pelaporan sistem Jerman berpengarh di Jepang, Swedia, dan Rusia.

Definisi Akuntansi Internasional

Pada tahun 1971, Prof. Thomas R. Weirich, Clarence G. Avery dan Henry R. Anderson mengemukakan tiga pendekatan berbeda:

  1. Sistem universal
  2. Pendekatan deskriptif dan informative yang mencakup semua metode dan standar dari semua negara, dan
  3. Praktik-praktik akuntansi dari anak-anak perusahaan yang ada di luar negeri dan perusahaan-perusahaan induk.

Mereka menamai dan menjelaskan pendekatan-pendekatan defisional ini, masing-masing sebagai berikut:

  1. Akuntansi Dunia. Dalam kerangka konsep ini, akuntansi internasional dianggap sebagai suatu sistem universal yang bisa diadopsi oleh semua negara. Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) untuk seluruh dunia, semacam yang ada di AS, akan dibentuk. Praktik-praktik dan prinsip-prinsip akan dikembangkan sehingga bisa diterapkan di semua negara. Konsep ini akan menjadi tujuan akhir dari sistem akuntansi internasional.
  2. Akuntansi Internasional. Konsep utama kedua dari istilah akuntansi internasional melibatkan pendekatan yang deskriptif dan informatif. Berdasarkan konsep ini, akuntansi internasional meliputi semua ragam prinsip, metode dan standar akuntansi dari semua negara. Konsep ini melibatkan GAAP masing-masing negara, sehingga akuntan perlu menyadari sejumlah prinsipberbeda ketika mempelajari akuntansi internasional. Tidak ada prinsip-prinsip universal atau sempurna yang perlu dibentuk. Kumpulan semua prinsip, metode dan standar dari semua negara akan disebut sebagai sistem akuntansi internasional. Perbedaan-perbedaan ini muncul karena perbedaan-perbedaan dalam geografis, pengaruh social, ekonomi, politik, dan hukum.
  3. Akuntansi Bagi Perusahaan Anak di Luar Negri. Konsep utama ketiga yang bisa diaplikasikan ke “akuntansi internasional” mengacu kepada praktik-praktik akuntansi perusahaan induk dan perusahaan anak-nya di luar negeri. Acuan atas negara tertentu atau tempat domisili perusahaan diperlukan dalam konsep ini agar pelaporan keuangan internasional efektif. Kepentingan akuntan yang utama adalah translasi dan penyesuaian laporan keuangan anak perusahaan. Masalah-masalah akuntansi yang berbeda akan timbul dan prinsip-prinsip akuntansi yang berbeda harus diikuti tergantung negara mana yang digunakan sebagai acuan bagi translasi dan penyesuaian.

Manfaat dan Tujuan adanya Akuntansi Internasional

Manfaat Akuntansi Internasional secara tehnis dan sosial :

  1. Akuntansi harus mengantisipasi kebutuhan masyarakat, dan
  2. Akuntansi harus mencerminkan kondisi budaya, ekonomi, hukum, sosial, dan politik dalam operasinya.

Tujuan Akuntansi Internasional adalah :

  1. Mengidentifikasi sejarah perkembangan akuntansi internasional dari masa ke masa serta berbagai perbedaan akuntansi yang ada di dunia.
  2. Mengetahui arti pentingnya bisnis global dalam pembentukan dimensi akuntansi
  3. Memudahkan pencatatan transaksi bisnis antar negara di seluruh dunia
  4. Membawa konvergensi standar akuntansi internasional (IFRS) dan standar akuntansi nasional ke arah solusi yang lebih tinggi
  5. Membawa perekonomian dunia ke arah yang lebih baik lagi
  6. Mengembangkan satu set standar akuntansi yang dapat dipahami oleh para pengguna laporan keuangan di seluruh dunia dalam pengambilan keputusan.

Pentingnya Mempelajari Akuntansi Internasional

Adanya sejumlah faktor tambahan yang menambah pentingnya mempelajari akuntansi internasional. Faktor-faktor ini berasal dari pengurangan signifikan dan terus-menerus hambatan perdagangan dan pengendalian modal secara nasional yang terjadi seiring kemajuan teknologi informasi.

Beberapa hal sudut pandang tersebut antara lain :

  1. Adanya usaha mengurangi perbedaan akuntansi internasional
  2. Pengendalian nasional terhadap arus modal
  3. Valuta asing
  4. Investasi asing langsung
  5. Liberalisasi transaksi
  6. Privatisasi perusahaan pemerintah (untuk pengurangan pengendalian valas dan pembatasan investasi lintas batas)
  7. Kemajuan dalam teknologi informasi

Konsep dari akuntansi komparatif atau akuntansi internasional mengarahkan akuntansi internasional kepada studi dan pemahaman atas perbedaan-perbedaan nasional di dalam skuntansi. Hal ini meliputi :

  1. Kesadaran akan adanya keragaman internasional di dalam akuntansi perusahaan dan praktik-praktik pelaporan.
  2. Pemahaman akan prinsip-prinsip dan praktik-praktik akuntansi dari masing-masing negara.
  3. Kemampuan untuk menilai dampak dari beragamnya praktik-praktik akuntansi pada pelaporan keuangan.

Munculnya paradigma baru di dalam akuntansi internasional memperluas kerangka kerja dan pemikiran untuk memasukkan ide-ide baru dari akuntansi internasional. Sebagai akibatnya, terbit daftar yang sangat panjang akan konsep-konsep dan teori-teori akuntansi yang dibuat oleh Amenkhienan untuk memasukkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Teori universal atau dunia
  2. Teori multinasional
  3. Teori komparatif
  4. Teori transaksi-transaksi internasional
  5. Teori translasi

Masing-masing teori-teori di atas memberikan dasar bagi pengembangan dari sebuah kerangka kerja konseptual untuk akuntansi internasional. Meskipun akan terdapat argumentasi mengenai teori manakah yang akan lebih disukai.

Iqbal, Melcher dan Elmallah mendefinisikan akuntansi internasional sebagai akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip akuntansi di negara – negara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di seluruh dunia.

Suatu perusahaan mulai terlibat dengan akuntansi internasional adalah pada saat mendapatkan kesempatan melakukan transaksi ekspor atau impor. Ekspor diartikan sebagai penjualan ke luar negeri dan dimulai saat perusahaan penjual domestik mendapatkan order pembelian dari perusahaan pembeli asing. Kesulitan – kesulitan mulai timbul pada saat perusahaan domestik ingin melakukan investigasi terhadap kelayakan perusahaan pembeli asing.

Jika pembeli diminta untuk memberikan informasi finansial berkaitan dengan perusahaannya, ada kemungkinan bahwa informasi finansial tersebut tidak mudah diinterpretasikan, mengingat adanya asumsi-asumsi akuntansi dan prosedur akkuntansi yang tidak lazim di perusahaan penjual. Sebagian besar perusahaan yang baru terjun di bisnis internasional bisa meminta bantuan kepada bank atau kantor akuntan dengan keahlian internasional untuk menganalisis dan menginterpretasikan informasi finansial tersebut.

REFERENSI

Triaswati Heti., Wasisto Arief., dan Sholihin Mahfud. 2005. Akuntansi Internasional, Cetakan Pertama. Yogyakarta : BPFE Yogyakarta.

http://sarah-alifah.blogspot.co.id/2015/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

http://anipujilestari-tugas-softskill.blogspot.co.id/2015/04/perlunya-mempelajari-akuntansi.html

http://www.belajarakuntansionline.com/tujuan-akuntansi-internasional/

http://anith-nithajie.blogspot.co.id/2013/06/akuntansi-internasional.html

0

Ketika yang Diinginkan dan Dicita-Citakan Tak Sesuai Harapan (Pelanggaran Etika) Part 3

Setelah Pak Irvan meminta saya untuk memanipulasi jumlah asset dan jumlah laba yang dihasilkan dengan sejumlah uang yang beliau janjikan kepada saya, saya benar-benar tidak tahu keputusan apa yang harus saya ambil. Disamping Pak Irvan ialah atasan saya sebagai auditor senior sebenarnya segan untuk menolak tetapi jika saya menerima, saya akan tahu akibatnya.

“Gimana Annis dengan tugas yang saya berikan dan sejumlah uang yang akan saya kasih ke kamu jika kamu melaksanakan tugas itu ?”

“Emmm . . . gimana ya Pak saya butuh waktu untuk menjawab tawaran Bapak dan melakukan tugas itu Pak.”

“Ayolah cepat kasih saya jawaban karena posisi keuangan kita dan laporan perusahaan kita sedang anjlok Niss, pasti kalau para investor tahu dan masyarakat tahu perusahaan kita akan dinilai jelek dan kinerjanya buruk.”

“Iya Pak saya mengerti tetapi saya benar-benar harus berpikir dulu sebelum menerima tugas ini.”

“Baiklah saya tunggu keputusanmu ya Niss inget jangan lama-lama.”

Setelah Pak Irvan keluar dari ruangan saya masuklah Indah sahabat saya sekaligus teman kerja, dia pun menanyakan seputar Pak Irvan.

“ Niss kenapa ko bengong aja sih ? Lagi ada yang dipikirin atau gimana ?”

“Eehhh Ndah hehehe . . . engga ko engga ada apa-apa, biasa lagi kecapean aja.”

“Yakin ? Banyakin istrihat ya Nis jangan cape-cape, kalau kerjaannya banyak sini dibantu biar cepat selesai dan engga numpuk tuh berkas.”

“Iya Ndah tenang aja btw makasih banyak yaa perhatian banget sih.”

Indah pun kembali ke ruangannya dan kemudian saya pun teringat tugas yang ingin diberikan Pak Irvan. Jawaban saya menerima atau tidaknya tugasnya  tersebut ternyata ditunggu Pak Irvan sebelum jam pulang kerja. Rasanya hati ini benar-benar tidak tenang sebelum menjawab pertanyaan Pak Irvan. Sejam sebelum jam pulang kerja tiba saya menghampiri ruang kerja Pak Irvan.

“Selamat sore Pak boleh saya masuk ?”

“Sore Niss, silahkan masuk Niss. Gimana sudah dipikirkan matang-matang mengenai tugas yang ingin saya berikan ke kamu ? Tenang masalah jumlah uang yang sudah saya janjikan bisa diubah ko, kamu minta berapa saja akan saya kasih tapi masih dibatas kewajaran ya Nis hahaha . . .”

“Duh gimana ya Pak ? Saya ragu pak.”

Ditengah keraguan saya, saya pun berpikir jika saya menolak tawaran Pak Irvan pasti bakal ada maslaah baru. Tetapi jika saya menerima  meskipun jangka waktunya tidak langsung pasti akibat dari semua itu akan ada juga.

“Gimana Annis ? Oke kan ? Saya sudah kenal lama loh sama kamu, baru kali ini saya lihat kamu kebingungan sampe begini.”

“Ehmm baik Pak saya terima tugas yang bapak kasih.”

“Nah gitu dong ini baru Annis, tenang Niss nanti keuntungannya kita bagi dua.”

Sehabis itu segera saya pulang ke rumah dan langsung istirahat untuk menghadapi apa yang akan terjadi diesok hari dan  bagaimana nanti akibat dari yang bakal saya lakukan.

Keesokan harinya . . . . .

“Pagi Annis, berkasnya sudah saya simpan di atas meja kerja kamu yaa, saya tunggu looh hasilnya secepatnya soalnya saya percaya sama kamu kalau tugas yang begini tuh sudah di luar kepala kamu.”

“Baik Pak segera akan saya selesaikan tugas-tugas yang Bapak berikan, terima kasih sebelumnya Pak.”

Sesampai di ruang kerja saya dan saya melihat beberapa tumpukan berkas dan itu berarti banyak sekali tugas yang harus segera saya kerjakan. Tanpa berpikir lama saya lihat saya pahami terlebih dahulu berkas-berkasnya. Dalam hati berkata dapatkan saya menyelesaikan tugas sebanyak ini dengan waktu yang singkat ? Dan saya masih memikirkan apa yang terjadi apabila laporan keuangan saya menipulasi ?

0

Ketika yang Diinginkan dan Dicita-Citakan Tak Sesuai Harapan (Pelanggaran Etika) Part 2

Hari demi hari website demi website kami cari untuk mengetahui  informasi mengenai lowongan untuk menjadi auditor entah untuk auditor eksternal atau auditor internal. Setelah seminggu Meya mendapatkan informasi dari Om Herman kakak dari ibunya yang seorang auditor dari KAP terkenal memberikan informasi bahwa ditempat ia  bekerja dan teman dekatnya bekerja dengan beda KAP sedang membutuhkan auditor. Segeralah Meya memberitahu kami tentang informasi dari Omnya itu, bergegaslah kami mencari tahu apa saja persyaratannya dan melengkapi persyaratannya. Dua hari kemudian Ica pun diberitahu oleh teman dekatnya yang kebetulan seorang auditor dari suatu perusahaan bahwa perusahaan yang bergerak dibidang kesehatan tersebut sedang membutuhkan auditor. Zevana mengajak kami bertemu di hari Minggu disuatu tempat makan untuk membicarakan tentang lowongan-lowongan kerja tersebut.

Sesaat di hari Minggu dan berkumpul . . .

“Mey, gimana persyaratan untuk di KAP tempat Om Herman ribet engga ?” tanya Indah

“Iya Mey biasanya kan kalau ditempat KAP yang udah terkenal dan bagus begitu susah buat masuk kesitu.” tanya Zevana

“Loh Zev emangnya persyaratan untuk jadi auditor internal disuatu perusahaan terkenal juga ga susah ? sama aja persyaratannya paling testnya aja yang lebih banyak.” Jawab Meya

“Ehmmmm . . . iya si pasti persyaratan dan testnya banyak udah gitu testnya pasti susah tapikan hasil itu engga ada yang menyia-nyiakan usaha yang udah kita lakuin.” Jawab Annisa

“Iya si benar juga yang diomongin sama Annisa, terus jadinya kalian mau daftar di KAP atau diperusahaan ?” kata Zevana

“Kalau aku pikir-pikir dulu deh sekalian minta saran dari orang tua terus  hari ini juga ka Rendi bakal pulang soalnya tugas pengamanannya engga selama yang udah dijadwalin.”

“Yaudah nanti kita berkabar aja yaa jadinya gimana terus apa aja yang harus disiapin, oke girls ?” kata Amel

Tidak terasa hari pun sudah menjelang malam karena sudah jam 17.30 WIB kami pun segera pulang ke rumah masing-masing dengan beban pikiran yang sama. Sesampai di rumah jam 19.00 ternyata orang yang selama ini ditunggu-tunggu sudah menunggu saya di rumah untuk sekalian mengajak  makan malam bersama sekaligus memperkenalkan pasangannya dan itu berarti calon kakak ipar saya. Seusai makan malam bersama kami pun segera ke ruang tv untuk berbincang-bincang.

“Gimana dek udah dapet belum informasi mengenai KAP mana yang lagi buka lowongan ?”

“Udah si ka tapi aku juga masih bingung soalnya Ica ngasih info ada KAP yang terkenal banget lagi buka lowongan tapi ada juga dari Zevana itu infonya kalau perusahaan dibidang kesehatan juga lagi butuhin auditor.”

“Coba tuh tanyain sama ka Chita mending daftar di KAP langsung atau jadi auditor internal perusahaan.”

“Ka Chita, kaka udah berapa lama di KPP ? Kerjanya enak atau engga ka ? Susah engga ?”

“Karena kaka udah mau 3tahun jadi kaka bilang enak-enak aja dan engga susah ko. Emang cita-cita kamu selain mau jadi auditor apa dek ?”

“Hahahaha . . . pokonya cita-cita aku tuh mau ngebahagiain ayah, ibu sama ka Rendi ka.”

“Yeeuuuh . . . gimana si kamu dek ditanyain serius juga , tuh mumpung ada ka Chita coba ditanyain  lebih baik daftar di KAP atau di perusahaan.”

“Iya ka Chit bener kata ibu mumpung ada kaka aku nanyain ke kaka aja deh siapa tau ada pencerahan dikit ka hehehe . . . ka kalau menurut kaka gimana mending di KAP atau di perusahaan langsung ?”

“Kalau menurut kaka si ya dek buat nambah-nambah pengalaman ya di KAP nanti kira-kira udah 2 tahun atau sekiranya kamu udah bosen di KAP pasti banyak ko perusahaan-perusahaan terkenal yang butuh jasa kamu dan tentunya pendapatannya pasti lebih gede.”

“Ehmmm yaudah berarti aku fix ngirim CV ke KAP aja deh lumayan buat pembelajaran sekaligus nambah pengalaman, doain aku ya bu, yah, ka Rend an Ka Chit semoga aku lolos dan keterima.”

“AMIN”

Keesokan harinya dari masing-masing kami telah memutuskan untuk daftar dimana dan ternyata saya, Ica, Amel dan Meya sepakat untuk ngelamar di KAP walaupun Amel berbeda KAPnya. Sedangkan Indah dan Zevana menentukan untuk ngelamar langsung di perusahaan yang sedang membutuhkan auditor. Sudah 3hari setelah kami menyimpan surat lamaran belum ada yang dipanggil untuk interview.

“Nis gimana kelanjutan lamaranmu di KAP terkenal itu ?”

“Belum ada panggilan interview bu, doain Annis yaa bu semoga usaha Annis ini membuahkan hasil yang Annis inginkan.”

“Iya Ndok pasti ibu doain ko.”

Setelah menunggu selama 7hari ternyata Indah dan Zevana duluan yang dipanggil untuk interview. 2hari selang indah dan Zevana, saya, Ica dan Meya pun dipanggil untuk interview di KAP yang kami idam-idamkan. Yang saya harapkan semoga ketiga dari kami semuanya lolos sampe akhirnya diterima di KAP bersangkutan.

“Niss … Nca … semoga kita lolos yaa interview dann test yang banyak itu.”

“Iya Mey pokonya apapun yang kita lakuin sekarang itu udah yang terbaik.”

1 hari selang interview belum ada kabar lolos atau tidaknya

2 hari pun belum maih ada kabar

Di hari ke-3 selang interview ternyata kami bertiga lolos untuk test selanjutnya dan diminta hadir pada hari Rabu.

Dimana hari penentu lolos atau engganya kami, kami telah melakukan dan menjawab test tersebut . Dari pihak KAP meminta kami untuk menunggu 1-2 hari untuk pengumuman lolos engganya.

Tanpa menunggu lama hingga 2hari ternyata keesokan hari setelah test terakhir kami pun mendapat jawaban lolos engganya dan ternyata setelah Ica dan Meya ngasih kabar kalau mereka lolos itu berarti kami bertiga LOLOS *Alhamdulillah

Hari demi hari kami bertiga berkerja ditempat yang sama walaupun dengan tugasnya masing-masing, walaupun begitu jika salah satu dari kami mendapat kesulitan dengan tugas kami pasti akan dibantu. Walaupun kami bertiga tidak satu tempat kerja dengan Indah, Amel dan Zevana, kami rutin loh setiap seminggu sekali atau dua minggu sekali bahkan paling lama sebulan sekali kami janjian untuk bertemu melepas rindu dan bercerita perihal pekerjaan kami.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan bahkan setahun dan dua tahun telah berlalu saya pun teringat pesan dari ka Chita yang sekarang sudah menjadi kaka ipar saya jika saya sudah merasa bosan dan ingin pindah mencari tempat kerja baru dan pengalaman baru itu tak masalah. Sebelum saya resign dari KAP yang telag memberikan ilmu banyak, saya ditawarkan untuk menjadi auditor internal di perusahaan pertambangan. Setelah saya pikir-pikir dan bertanya kepada banyak orang termasuk kedua orang tua saya mereka menyetujui saya pindah dan menerima tawaran untuk menjadi auditor internal di perusahaan pertambangan.

Setelah saya diterima ternyata rekan kerja saya ialah teman seperjuangan saya yaitu Indah yang ternyata telah keluar juga di tempat kerjanya yang lama, selain Indah saya pun mendapatkan rekan kerja yang dulunya kerja di KAP yang sama dengan saya yaitu Bapak Irvan seorang auditor yang ilmunya tiada tandingannya (kalau menurut saya). Dengan rekan kerja yang sudah saya kenal sebelumnya saya berharap lebih menikmati dan lebih bisa kerja sama satu sama lain. Ditengah pekerjaan saya Bapak Irvan memberikan tugas kepada saya untuk memeriksa dan mengganti laporan keuangan yang sudah dibuat sebelumnya. Dalam hal ini beliau meminta saya untuk memanipulasi jumlah asset dan laba yang dihasilkan dari perusahaan yang bersangkutan. Sebelum melakukan hal tersebut Bapak Irvan menjanjikan uang senilai 500juta jika saya bisa memanipulasi jumlah asset tetapi jika saya merubah laba yang dihasilkan dibuat lebih baik maka beliau akan menambahkan uangnya menjadi 1.5 Miliar. ‘Wow’ seumur hidup saya, saya tidak pernah melihat uang sebanyak itu dan saya pun juga tidak tahu untuk apa nanti uangnya.

0

Perkembangan Etika Bisnis dan Profesi Pada Abad ke-21

Pengertian Etika

Etika biasa disebut sebagai ilmu yang mempelajari tentang apa yang biasa dilakukan. pendeknya etika adalah ilmu yang secara khusus menyoroti perilaku manusia dari segi moral bukan dari fisik, etnis dan sebagainya. Definisi etika sangat beraneka ragam tetapi memiliki satu pengertian yang sama yaitu pengetahuan tentang tata cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara universal baik secara ekonomi / sosial. Selain itu etika juga merupakan salah satu disiplin pokok dalam filsafat, ia merefleksikan bagaimana manusia harus hidup agar berhasil menjadi sebagai manusia. (Franz Magnis-Suseno :1999)

Pengertian Etika Bisnis

Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat.

Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.

Etika Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan termasuk manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap yang profesional.

Sifat Etika Bisnis

Apakah suatu praktik bisnis bisa dikatakan berdimensi etis atau tidak etis bisa dikaji dengan memahami esensi dari etika bisnis dari pandangan utilitariabism (kemanfaatan), relativism (relativitas) dan legalism (legalitas). Menurut pandangan utilitariabism, bisnis dinyatakan etis jika memberikan manfaat kepada banyak orang. Tetapi pandangan ini akan akan berdampak adanya pihak-pihak yang dikorbankan. Sebagai contoh pembangunan jalan layang jelas menguntungkan, namun dalam keuntungan yang diperoleh pebisnis mempunyai dampak berupa hilangnya kesempatan petani mengelola tanah produktif dan rusaknya keseimbangan ekosistem.

Menurut pandangan relativism, bisnis dinyatakan etis bila mayoritas berpandangan setuju atau sesuatu yang bersifat umum dilakukan. Namun berbisnis secara etis bukan merupakan pengikut relativism. Seprti misalnya banyak kasus bribery dan extorsion yang keduanya merupakan kasus penyuapan. Pada bribery, inisial penyuapan berasal dari pemberi (giver), sedangkan extorsion inisial penyuapan dari pihak penerima (receiver). Demikian juga berbisnis secara etis bukan pengikut pandangan legalism, karena berbisnis lebih dari sekedar taat pada aturan hukum yang ada, namun ketentuan legal merupakan persyaratan minimum dari suatu tindakan bisnis yang etis. Seperti misalnya ketentuan upah minimum, maka perusahaan yang berdimensi etis akan memberikan upah lebih dari jumlah tersebut yaitu pemberian upah yang berorientasi pada terpenuhinya kebutuhan karyawan lebih luas dengan memperhatikan kemampuan perusahaan secara jujur.

Etika bisnis merupakan sesuatu yang berlaku secara universal, artinya esensi etika bisnis berlaku di mana saja, kapan saja, dan siapa saja tanpa memandang jabatan, ras, pendidikan, dan agama. Pertimbangan normatif yang menjadi basis apakah sesuatu itu baik atau buruk mempunyai karakteristik memperhatikan sungguhsungguh seberapa besar kerugian dan keuntungan bagi manusia, menentang upaya memperoleh keuntungan sendiri (override self-interest), dan didasari pada pertimbangan yang fair. Bisnis yang berdimensi etis akan selalu memprioritaskan sumber daya manusia dari pada modal, menghargai martabat manusia, menghormati human right, profit sharing dan lebih memperhatikan pihak yang lemah. Kennedy (1995) dalam The rise and fall of great power menyatakan bahwa tantangan terbesar manusia di abad-21 adalah menggunakan kekuatan teknologi untuk memenuhi tuntutan kekuatan penduduk untuk membebaskan tiga perempat jumlah penduduk dunia yang miskin.

Pihak yang berperan besar dalam menentukan bisnis berorientasi etis atau tidak adalah manajer. Dia berperan dalam menentukan kebijakan perusahaan, kode etik perusahaan, serta pendidikan dan pelatihan etika bisnis bagi para pekerjanya. Berkembangnya bisnis berdimensi etis akan memberi harapan meningkatnya kesejahteraan masyarakat dengan tersedianya lebih banyak pilihan produk yang harganya murah, kualitas dan pelayanan yang lebih baik, dan adanya jaminan keselamatan konsumen yang memadai.

Etika dalam dunia bisnis diperlukan untuk menjaga hubungan baik dan fairness dalam dunia bisnis. Etika bisnis mencapai status ilmiah dan akademis dengan identitas sendiri, pertama kali timbul di amerika srikat pada tahun 1970-an. Untuk memahami perkembangan etika bisnis De George membedakannya kepada lima periode, yaitu :

  1. Situasi Dahulu

Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain, menyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia bersama dalam negara dan membahas bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur. Pada masa ini masalah moral disekitar ekonomi dan bisnis disoroti dari sudut pandang teologi.

  1. Masa Peralihan: Tahun 1960-an

Pada saat ini terjadi perkembangan baru yang dapat disebut sbagai prsiapan langsung bagi timbulnya etika bisnis. Ditandai pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat (AS), revolusi mahasiswa (di ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan), pada saat ini juga timbul anti konsumerisme. Hal ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya manajemen, yaitu dengan memasukan mata kuliah baru ke dalam kurikulum dengan nama busines and society and coorporate sosial responsibility, walaupun masih menggunakan pendekatan keilmuan yang beragam minus etika filosofis.

  1. Etika Bisnis Lahir di AS: Tahun 1970-an

Terdapat dua faktor yang mendorong kelahiran etika bisnis pada tahun 1970-an yaitu:

    –   Sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis di sekitar bisnis dan etika  bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis

    –   Terjadinya krisis moral yang dialami oleh dunia bisnis.

Pada saat ini mereka bekerja sama khususnya dengan ahli ekonomi dan manejemen dalam meneruskan tendensi etika terapan. Norman E. Bowie menyebutkan bahwa kelahiran etika bisnis ini disebabkan adanya kerjasama interdisipliner, yaitu pada konferesi perdana tentang etika bisnis yang diselanggarakan di universitas Kansas oleh philosophi Departemen bersama colledge of business pada bulan November 1974.

  1. Etika Bisnis Meluas ke Eropa: Tahun 1980-an

Di Eropa Barat, etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian. Hal ini pertama kali ditandai dengan semakin banyaknya perguruan tinggi di Eropa Barat, yang mencantumkan mata kuliah etika bisnis. Pada tahun 1987 didirikan pula European Ethics Network (EBEN), yang digunakan sebagai forum pertemuan antara akademisi dari universitas, sekolah bisnis, para pengusaha dan wakil-wakil dari organisasi nasional dan internasional.

  1. Etika Bisnis menjadi Fenomena Global: Tahun 1990-an

Etika bisnis telah hadir di Amerika Latin , ASIA, Eropa Timur dan kawasan dunia lainnya. Di Jepang yang aktif melakukan kajian etika bisnis adalah Institute of Moralogy pada universitas Reitaku di Kashiwa-Shi. Di india etika bisnis dipraktekkan oleh Management Center of Human Values yang didirikan oleh dewan direksi dari Indian Institute of Management di Kalkutta tahun 1992. Lalu pada 25-28 Juli 1996, telah didirikan International Society for Business, Economics, and Ethics (ISBEE) di Tokyo.

Di Indonesia sendiri, pada beberapa perguruan tinggi terutama pada program pascasarjana telah diajarkan mata kuliah etika bisnis. Selain itu bermunculan pula organisasi-organisasi yang melakukan pengkajian khusus tentang etika bisnis misalnya lembaga studi dan pengembangan etika usaha indonesia (LSPEU Indonesia) di jakarta.

Perkembangan Etika Bisnis di Indonesia.

Etika bisnis dapat dikatakan baru berkembang dalam satu dua dasawarsa terakhir ini. Jika dibandingkan dengan etika khusus lainnya sebagai cabang etika terapan, seperti etika politik, dan kedokteran, etika bisnis dirasakan masih sangat baru. Dengan semakin gencarnya pembicaraan mengenai etika bisnis di masyarakat bersama dengan hidupnya kegiatan bisnis di negera kita, mulai disadari bahwa etika bisnis perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar, khususnya dalam kerangka perilaku bisnis di Indonesia.

Disadari bahwa tuntutan dunia bisnis dan manajemen dewasa ini semakin tinggi dan keras yang mensyaratkan sikap dan pola kerja yang semakin profesional. Persaingan yang makin ketat juga juga mengharuskan pebisnis dan manajer untuk sungguh-sungguh menjadi profesional jika mereka ingin meraih sukses. Namunyang masih sangat memprihatinkan di Indonesia adalah bahwa profesi bisnis belum dianggap sebagai profesi yang luhur. Hal ini disebabkan oleh pandangan masyarakat yang menganggap bahwa bisnis adalah usaha yang kotor. Itulah sebabnya bisnis selalu mendapatkan konotasi jelek, sebagai kerjanya orang-orang kotor yang disimbolkan lintah darat yaitu orang yang mengeruk keuntungan secara tidak halal menghisap darah orang lain. Kesan dan sikap masyarakat seperti ini sebenarnya disebabkan oleh orang-orang bisnis itu sendiri yang memperlihatkan citra negatif tentang bisnis di masyarakat. Banyak pebisnis yang menawarkan barang tidak bermutu dengan harga tinggi, mengakibatkan citra bisnis menjadi jelek. Selain itu juga banyak pebisnis yang melakukan kolusi dan nepotisme dalam memenangkan lelang, penyuapan kepada para pejabat, pengurangan mutu untuk medapatkan laba maksimal, yang semuanya itu   merupakan bisnis a-moral dan tidak etis dan menjatuhkan citra bisnis di Indonesia.

Rusaknya citra bisnis di Indonesia tersebut juga diakibatkan adanya pandangan tentang bisnis di masyarakat kita, yaitu pandangan praktis-realistis dan bukan pandangan ideal. Pandangan praktis-realistis adalah pandangan yang bertumpu pada kenyataan yang berlaku umum dewasa ini. Pandangan ini melihat bisnis sebagai suatu kegiatan di antara manusia untuk memproduksi, menjual dan membeli barang dan jasa untuk memperoleh keuntungan. Pada pandangan ini ditegaskan secara jelas bahwa tujuan dari bisnis adalah mencari laba. Bisnis adalah kegiatan profit making, bahkan laba dianggap sebagai satu-satunya tujuan pokok bisnis. Dasar pemikiran mereka adalah keuntungan itu sah untuk menunjang kegiatan bisnis itu. Tanpa keuntungan bisnis tidak mungkin berjalan. Friedman dalam De George (1986) menyatakan bahwa dalam kenyataan keuntunganlah yang menjadi satu-satunya motivasi dasar orang berbisnis. Karena orang berbisnis inginmencari keuntungan, maka orang yang tidak mau mencari keuntungan bukan tempatnya di bidang bisnis. Inilah suatu kenyataan yang tidak bisa disangkal. Lain halnya dengan pandangan ideal, yaitu melakukan kegiatan bisnis karena dilatarbelakangi oleh idealisme yang luhur.

Menurut pandangan ini bisnis adalah suatu kegiatan di antara manusia yang menyangkut memproduksi, menjual dan membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dasar pemikiran mereka adalah pertukaran timbal balik secara fair, di antara pihak-pihak yang teribat. Maka yang ingin ditegakkan adalah keadilan kumulatif dan keadilan tukarmenukar yang sebanding. Konosuke Matsushita dalam Lee dan Yoshihara (1997) yang menyatakan bahwa tujuan bisnis sebenarnya bukanlah mencari keuntungan, melainkan untuk melayani masyarakat. Sedangkan keuntungan adalah simbol kepercayaan masyarakat atas kegiatan bisnis yang kita lakukan. Fokus perhatian bisnis adalah memberi pelayanan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat dan kita akan memperoleh keuntungan dari pelayanan tersebut. Pandangan bisnis ideal semacam ini, bisnis yang baik selalu memiliki misi tertentu yang luhur dan tidak sekedar mencari keuntungan. Misi itu adalah meningkatkan standar hidup masyarakat, dan membuat hisup manusia menjadi lebih manusiawi melalui pemenuhan kebutuhan secara etis.

Melihat pandangan bisnis di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa etika bisnis di Indonesia masih jelek. Citra jelek tersebut disebabkan oleh pandangan pertama yang melihat bisnis hanya sebagai sekedar mencari keuntungan. Tentu saja mencari keuntungan sebagaimana dikatakan di atas. Hanya saja sikap yang timbul dari kesadaran bahwa bisnis hanya mencari keuntungan telah mengakibatkan perilaku yang menjurus menghalalkan segala cara demi mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa mengindahkan nilai-nilai manusiawi lainnya seperti adanya persaingan tidak sehat, monopoli, kecurangan, pemalsuan, eksploitasi buruh dan sebagainya. Keuntungan adalah hal yang baik dan perlu untuk menunjang kegiatan bisnis selanjutnya, bahkan tanpa keuntungan, misi luhur bisnis pun tidak akan tercapai. Persoalan dihadapi di sini adalah bagaimana mengusahakan agar keuntungan yang diperoleh itu wajar-wajar saja, karena yang utama adalah melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat dengan tidak merugikan pihakpihak yang terkait dalam bisnis ini. Perkembangan etika bisnis di Indonesia yang demikian itu, nampaknya hingga sekarang masih jauh dari harapan.

Referensi

http://dion.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/35636/Konsep+Etika+Bisnis.docx

http://debbyseptianti-debbyaccounting.blogspot.co.id/2014/12/perkembangan-etika-bisnis-dan-profesi.html

http://meginugrahawa.blogspot.co.id/2015/12/perkembangan-etika-bisnis-pada-abad-21.html